Batik Encim Pekalongan merupakan artefak budaya yang secara visual merekam dinamika akulturasi antara masyarakat lokal Jawa dan peranakan Tionghoa di wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk membedah manifestasi akulturasi budaya tersebut melalui analisis tanda visual pada motif-motif utamanya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika triadik Charles Sanders Peirce, yang membagi tanda ke dalam elemen representamen, objek (ikon, indeks, simbol), dan interpretan. Data penelitian terdiri dari lima spesimen kain Batik Encim pilihan yang mewakili keragaman motif flora dan fauna mitologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Batik Encim berfungsi sebagai sistem tanda hibrida; di mana ikonitas alam (flora-fauna) berpadu dengan indeksasi warna cerah yang mencerminkan keterbukaan sosial, serta simbolisme luhur yang membawa pesan harmoni dan keberuntungan. Temuan ini menegaskan bahwa akulturasi dalam Batik Encim bukan sekadar pengadopsian estetika asing, melainkan bentuk dialog visual yang melahirkan identitas budaya baru di Pekalongan. Analisis ini memberikan kontribusi pada pemahaman mengenai bagaimana kain tradisional mampu menjadi media komunikasi simbolis dalam menjembatani perbedaan budaya.
Copyrights © 2026