Artikel ini menganalisis pergeseran epistemologis dalam kajian Asia Tenggara pasca-kritik Edward Said terhadap Orientalisme dengan menelaah secara kritis tulisan Adrian Vickers, Southeast Asian Studies after Said. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis analisis konseptual-kritis dan pembacaan wacana untuk mengkaji bagaimana Asia Tenggara dikonstruksi sebagai objek pengetahuan melalui praktik representasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa respons pasca-Said dalam kajian Asia Tenggara kerap menghasilkan paradoks metodologis, yaitu delegitimasi studi tekstual dan filologi yang justru melemahkan analisis representasi. Vickers mengusulkan rehabilitasi studi representasi sebagai inti metodologi kajian kawasan dan mereformulasikan Asia Tenggara sebagai peradaban yang terbentuk melalui mobilitas dan sirkulasi simbolik lintas wilayah. Tradisi Panji dijadikan ilustrasi bagaimana kawasan ini beroperasi sebagai zona interaksi budaya yang cair dan melampaui batas nasional modern. Artikel ini mengajukan kerangka Beyond Post-Orientalism sebagai upaya rekonstruksi epistemologis yang menempatkan representasi, mobilitas, dan peradaban sebagai dasar analisis Asia Tenggara. Pendekatan ini berkontribusi pada penguatan kembali studi kawasan sebagai medan produksi epistemologi lokal dalam konteks perdebatan global tentang Area Studies dan modernitas.
Copyrights © 2025