Artikel ini mengkaji kritik terhadap paradigma antroposentrisme baru dalam Sustainable Development Goals (SDGs) dan menawarkan Islam Kosmik sebagai paradigma alternatif pembangunan berkelanjutan. Kontribusi teoretis artikel ini terletak pada perumusan kerangka teo-kosmis yang mendekonstruksi alam dari sekadar "modal instrumental" menjadi "subjek penyaksi" yang setara dengan manusia di hadapan Tuhan. Meskipun SDGs berupaya mengintegrasikan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan, orientasinya masih terjebak pada antroposentrisme baru yang mereduksi alam sebagai prasyarat kesejahteraan manusia semata. Menggunakan metode studi kepustakaan dengan analisis filosofis-teologis terhadap pemikiran Muhammad al-Fayyadl, penelitian ini menemukan bahwa SDGs mengabaikan dimensi transendental yang berakibat pada kegagalan transformasi perilaku eksploitatif. Islam Kosmik menawarkan pergeseran kesadaran melalui empat pilar epistemologis: shahādah, tajallī, ma‘rifatullāh dan jihād kawnī. Artikel ini menyimpulkan bahwa Islam Kosmik memberikan landasan spiritual-ekologis yang lebih komprehensif, memosisikan pembangunan bukan sekadar proyek teknokratis, melainkan ibadah kosmik untuk menjaga harmoni seluruh ciptaan.
Copyrights © 2026