Penelitian ini mengungkap bahwa pada periode pemulihan ekonomi pascapandemi 2021–2023, stabilitas laba tetap menjadi determinan utama return saham, sementara beban pajak korporasi secara signifikan menekan imbal hasil investor pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Temuan ini penting karena sektor barang konsumsi yang secara teoretis bersifat defensif justru mengalami volatilitas tinggi dan kinerja indeks yang tertinggal dibandingkan pasar utama, sehingga memunculkan anomali yang menuntut pengujian ulang relevansi sinyal fundamental dan fiskal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kinerja keuangan dan beban pajak terhadap return saham dalam konteks tersebut dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Data sekunder berupa laporan keuangan tahunan dan harga saham diperoleh dari situs resmi BEI, dengan sampel 18 perusahaan yang dipilih melalui teknik purposive sampling sehingga menghasilkan 54 data observasi selama tiga tahun. Analisis dilakukan menggunakan regresi linier berganda, dengan Earnings per Share (EPS) sebagai proksi kinerja keuangan, Effective Tax Rate (ETR) sebagai proksi beban pajak, dan return saham dihitung berdasarkan capital gain serta dividen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EPS berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham, sedangkan ETR berpengaruh negatif dan signifikan. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat relevansi teori sinyal dalam konteks pascakrisis sekaligus memberikan bukti empiris bahwa faktor fiskal memiliki peran yang semakin sensitif dalam pembentukan return saham bahkan pada sektor yang secara tradisional dianggap defensif. Secara praktis, manajemen perusahaan perlu menyeimbangkan strategi peningkatan profitabilitas dan efisiensi pajak guna menjaga serta memulihkan kepercayaan investor. This study reveals that during the 2021–2023 post-pandemic economic recovery period, earnings stability remains a primary determinant of stock returns, while corporate tax burden significantly suppresses investor returns in consumer goods sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX). This finding is noteworthy because the consumer goods sector traditionally regarded as defensive and stable experienced heightened volatility and lagging index performance compared to the broader market, creating an anomaly that necessitates a reassessment of the relevance of fundamental and fiscal signals. Accordingly, this study aims to analyze the impact of financial performance and corporate tax burden on stock returns within this context using a quantitative approach. Secondary data consisting of annual financial reports and stock prices were obtained from the official IDX website, with a sample of 18 firms selected through purposive sampling, resulting in 54 observations over three years. Multiple linear regression analysis was employed, using Earnings per Share (EPS) as a proxy for financial performance, Effective Tax Rate (ETR) for corporate tax burden, and stock returns calculated from capital gains and dividends. The results indicate that EPS has a positive and significant effect on stock returns, whereas ETR has a significant negative effect. Theoretically, this study reinforces signaling theory in a post-crisis context and provides empirical evidence that fiscal factors play an increasingly sensitive role in shaping stock returns even within a traditionally defensive sector. Practically, corporate management should balance profitability enhancement strategies with tax efficiency to sustain and restore investor confidence.
Copyrights © 2026