Gangguan muskuloskeletal terkait kerja merupakan penyebab utama disabilitas global yang memengaruhi produktivitas. Di Indonesia, prevalensinya meningkat, khususnya pada sektor jasa dan pendidikan. Staf administrasi Universitas Karya Persada Muna menghadapi tantangan kompleks berupa double job, jam kerja melebihi standar, dan fasilitas kerja yang belum sepenuhnya ergonomis. Berdasarkan model Job Strain, ketidakseimbangan tuntutan pekerjaan dapat memicu stres dan ketegangan otot. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan beban kerja dan stres kerja terhadap muskuloskeletal. Metode menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 51 staf administrasi dipilih melalui total sampling. Lokasi penelitian di Universitas Karya Persada Muna. Pengumpulan data menggunakan kuesioner terstandar NASA Task Load Indeks, Perceived Stress Scale, Nordic Musculoskeletal Questionnaire. Analisis data meliputi statistik deskriptif, uji Chi-Square, dan regresi logistik berganda. Hasil menunjukkan 90,2% responden mengalami keluhan muskuloskeletal. Mayoritas responden (64,7%) memiliki beban kerja berat. Uji bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara beban kerja dengan keluhan muskuloskeletal (p=0,028), sedangkan stres kerja tidak menunjukkan hubungan signifikan (p=0,101). Model regresi mengonfirmasi beban kerja sebagai faktor risiko dengan nilai Exp(B) 0,109. Dengan konstanta sebesar 3,466 yang signifikan (Sig. 0,001). Bahwa beban kerja tinggi secara signifikan meningkatkan risiko WMSDs, sementara stres kerja tidak berpengaruh langsung. Penelitian menyarankan perlunya kebijakan K3 berbasis bukti, desain workstation ergonomis, dan manajemen beban kerja yang adil guna meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas kerja staf administrasi di lingkungan universitas.
Copyrights © 2026