Bank rontok saat ini masih menjadi salah satu pilihan pinjaman bagi masyarakat berpendapatan menengah ke bawah, khususnya perempuan, yang seringkali menjadikannya solusi untuk memenuhi kebutuhan produktif dan konsumtif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi motif yang mendasari perempuan dalam meminjam di bank rontok dan menganalisis dampak yang timbul dari pinjaman tersebut. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih fokus pada dampak pinjaman secara umum, studi ini secara khusus mengkaji motif dan dampak pinjaman pada perempuan. Penelitian ini mengambil lokasi di Desa Saribaye, Lombok Barat, dengan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, dengan subjek utama sebanyak 7 perempuan berusia 27–62 tahun dan 3 informan pendukung, yaitu pegawai bank rontok, kepala Desa Saribaye, dan kepala Dusun Repok Keri. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif utama perempuan meminjam meliputi pendapatan yang relatif kecil, kemudahan akses pinjaman, perubahan demografi, pengaruh sosial, dan kebutuhan mendesak. Dampak yang timbul dari pinjaman tersebut adalah munculnya gaya hidup industri, public relations, mandiri, dan hedonis. Penelitian ini menekankan pentingnya kesadaran perempuan dalam mengelola keuangan rumah tangga secara bijak, memprioritaskan pinjaman yang benar-benar mendesak, dan menghindari tekanan sosial yang mendorong perilaku konsumtif untuk menghindari lingkaran utang yang berulang. The Impact of Failed Bank Rontok on the Lifestyle of Women in Saribaye Village, Lingsar Subdistrict, West Lombok Regency Abstract Rontok banks remain a common borrowing option for middle and lower-income communities, particularly for women, who often use them as a solution to meet both productive and consumptive needs. This study aims to explore the motives behind women's borrowing from rontok banks and analyze the resulting impacts. Unlike previous studies that focus broadly on the effects of borrowing, this study specifically examines the motives and impacts of loans taken by women. The research is conducted in Saribaye Village, West Lombok, using a qualitative approach with a phenomenological method. Data collection is carried out through in-depth interviews, observations, and documentation, with primary subjects comprising 7 women aged 27–62 years, along with 3 supporting informants: a rontok bank employee, the head of Saribaye Village, and the head of Repok Keri Hamlet. Data analysis is performed using Miles and Huberman's model, through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The findings reveal that the main motives for women borrowing include low income, the ease of access to loans, demographic changes, social influence, and urgent needs. The impacts of these loans include the emergence of industrial, public relations, independent, and hedonistic lifestyles. This study emphasizes the importance of raising women's awareness in managing household finances wisely, prioritizing truly urgent loans, and avoiding social pressures that encourage consumptive behavior, in order to break the cycle of recurring debt.
Copyrights © 2026