Hipertensi merupakan masalah kesehatan kronis dengan prevalensi yang terus meningkat. Kualitas tidur yang buruk diduga memengaruhi regulasi tekanan darah melalui aktivasi sistem saraf simpatis, namun hubungan spesifiknya pada pasien di tingkat layanan primer seperti Puskesmas Rajeg, Kabupaten Tangerang Banten, belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kualitas tidur dengan derajat hipertensi di wilayah kerja puskesmas tersebut. Desain penelitian menggunakan cross-sectional analitik observasional dengan sampel sebanyak 105 pasien hipertensi yang dipilih secara purposive. Kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), sedangkan derajat hipertensi ditentukan berdasarkan pengukuran tekanan darah dengan sphygmomanometer digital. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki kualitas tidur buruk (81,0%) dan berada pada kelompok hipertensi derajat 1 (49,5%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan derajat hipertensi (p-value = 0,026; ρ = 0,218). Hubungan tersebut bersifat positif dan lemah, mengindikasikan bahwa semakin buruk kualitas tidur, cenderung diikuti dengan derajat hipertensi yang lebih tinggi. Temuan ini mendukung pentingnya mempertimbangkan kualitas tidur sebagai salah satu faktor dalam manajemen hipertensi. Disarankan agar skrining kualitas tidur diintegrasikan ke dalam asesmen rutin pasien hipertensi di puskesmas dan edukasi tentang sleep hygiene diperkuat sebagai bagian dari intervensi gaya hidup untuk mencegah progresivitas penyakit.
Copyrights © 2026