ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat. Kondisi kegawatdaruratan hipertensi kerap muncul tanpa gejala awal yang jelas, sehingga masyarakat sering kali tidak menyadari ancaman yang ada. Situasi ini menuntut adanya deteksi dini serta peningkatan kesiapsiagaan komunitas sebagai langkah preventif untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas. Tingginya prevalensi hipertensi di RW 10 Kelurahan Binong, Kecamatan Batununggal, belum diimbangi dengan sistem penanganan darurat yang terstruktur. Kader PKK dan Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masih menghadapi keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam mendeteksi serta menangani kondisi darurat hipertensi. Metode: Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas kader melalui pelatihan intensif yang mencakup edukasi kesehatan, simulasi penanganan darurat, diskusi kelompok terarah, serta monitoring dan evaluasi berkala. Hasil: Kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan kader (p = 0,000; uji Wilcoxon), dengan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 56 menjadi 88. Selain itu, terbentuk prosedur operasional penanganan darurat hipertensi yang aplikatif dan dapat diterapkan di tingkat komunitas. Kesimpulan: Intervensi ini menghasilkan kader yang lebih responsif dalam memberikan pertolongan pertama, sehingga berkontribusi pada penurunan risiko komplikasi serta peningkatan kualitas hidup masyarakat. Kata Kunci: Hipertensi, Kegawatdaruratan, Kader PKK Posyandu, Edukasi, Simulasi. ABSTRACT Introduction: Hypertension is a major public health issue that can lead to serious complications if not properly managed. Hypertensive emergencies often occur without clear initial symptoms, making communities less aware of the potential risks. This situation highlights the need for early detection and improved community preparedness as preventive measures to reduce morbidity and mortality. The high prevalence of hypertension in RW 10, Binong Village, Batununggal District, has not been supported by a structured emergency response system. PKK and Posyandu cadres, as the frontline of community health services, still face limitations in knowledge and skills to detect and manage hypertensive emergencies. Methods: This community service program aimed to strengthen cadre capacity through intensive training, including health education, emergency response simulations, focused group discussions, and regular monitoring and evaluation. Results: The program demonstrated a significant improvement in cadre knowledge (p = 0.000; Wilcoxon test), with the average knowledge score increasing from 56 to 88. In addition, an applicable standard operating procedure for hypertensive emergency management was successfully developed. Conclusion: This intervention produced cadres who are more responsive in providing first aid, thereby contributing to reduced risk of complications and improved community quality of life. Keywords: Hypertension, Emergency, PKK Posyandu Cadres, Education, Simulation.
Copyrights © 2026