Darajat, Agus Mi'raj
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Edukasi masyarakat dalam menangani luka dan kegawatdaruratan sehari-hari pada anak stunting dengan memanfaatkan tanaman obat keluarga Darajat, Agus Mi'raj; Abidin, Imam; Khotimah, Nur Intan Hayati Husnul; Tambunan, Irisanna; Megawati, Sri Wulan
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.429

Abstract

Background: Overall, Sinarjaya Village consists of 10 RW, and supported by good soil conditions, more people are suitable for farming and working in factories. Based on the Garut Regional Government, the prevalence of stunting is targeted to be below 14% in 2024, in accordance with the national target, although the stunting rate in Garut Regency increased from 23.6% to 24.1% in early 2024 based on the Indonesian Health Survey. Purpose: To improve community skills related to daily emergencies and the use of family medicinal plants for wounds through community empowerment in families with stunted children. Method: The implementation of activities involves residents involved as Family Welfare Empowerment Cadres and Integrated Service Post Cadres in Sinarjaya Village, Tarogong, Garut. Participation in increasing community empowerment efforts in handling daily emergencies and understanding related to the use of Family Medicinal Plants for wounds in stunted children in families in particular. Activities are carried out through several stages, namely preparation, implementation, and evaluation. Results: Cadres can make phone calls well and can answer questions about emergency handling well. Training in the form of mini lectures and direct practice can improve skills towards cognitive, affective, and basic behavioral aspects such as the ability to remember, pay attention and control performance. Conclusion: Education through training and simulation can improve cadres' knowledge and skills in handling daily emergencies and the use of TOGA for wounds. Improved skills can improve preparedness and success in handling emergencies. The role of PKK and Posyandu cadres who can reach the community is the basis for efforts to empower individuals and families so that handling will be faster and more appropriate. Keywords: Community Empowerment; Dwarfism; Family Medicinal Plants; Wound Care. Pendahuluan: Secara Keseluruhan Desa Sinarjaya terdiri dari 10 RW,serta di dukung oleh kondisi tanah yang baik,  masyarakat lebih banyak bercocok tanam dan bekerja pabrik. Berdasarkan pemerintah daerah kabupaten (Pemkab) Garut menargetkan prevalensi stunting di bawah 14% pada tahun 2024,sesuai dengan target nasional,meski angka stunting di kabupaten Garut naik dari 23.6% menjadi 24.1% pada tahun 2024 awal berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI). Tujuan: Untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menangani luka dan kegawatdaruratan sehari-hari pada anak stunting dengan memanfaatkan tanaman obat keluarga. Metode: Pelaksanaan kegiatan melibatkan warga yang terlibat menjadi Kader PKK dan Kader Posyandu yang ada di Desa Sinarjaya Tarogong Garut. Partisipasinya adalah dalam meningkatkan upaya pemberdayaan masyarakat dalam penanganan kegawatdaruratan sehari-hari dan pemahaman terkait penggunaan TOGA untuk luka pada anak stunting di keluarga khususnya. Kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil: Kader dapat mensimulasikan dengan baik dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik tentang penanganan kegawatdaruratan. Pelatihan yang berbentuk mini-lecturing dan direct practicing mampu meningkatkan keterampilan menuju aspek kognitif, afektif, serta perilaku mendasar misalnya kemampuan mengingat, perhatian dan mengontrol kinerja. Simpulan: Edukasi melalui pelatihan dan simulasi dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam penanganan kegawatdaruratan sehari-hari dan pemanfaatan TOGA untuk luka. Peningkatan keterampilan dapat meningkatkan kesiapsiagaan dalam penanganan kegawat daruratan. Peran kader PKK dan Posyandu yang dapat menjangkau masyarakat menjadi dasar dalam upaya memberdayakan individu dan keluarga sehingga penanganan akan lebih cepat dan tepat
Optimalisasi Peran Kader PKK dan Posyandu dalam Pencegahan Kegawatdaruratan Hipertensi Khotimah, Nur Intan Hayati Husnul; Darajat, Agus Mi'raj; Widyawati, Widyawati; Jayanti, Tri Nur
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 3 (2026): Volume 9 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i3.24097

Abstract

ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat. Kondisi kegawatdaruratan hipertensi kerap muncul tanpa gejala awal yang jelas, sehingga masyarakat sering kali tidak menyadari ancaman yang ada. Situasi ini menuntut adanya deteksi dini serta peningkatan kesiapsiagaan komunitas sebagai langkah preventif untuk menekan angka morbiditas dan mortalitas. Tingginya prevalensi hipertensi di RW 10 Kelurahan Binong, Kecamatan Batununggal, belum diimbangi dengan sistem penanganan darurat yang terstruktur. Kader PKK dan Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masih menghadapi keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam mendeteksi serta menangani kondisi darurat hipertensi. Metode: Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas kader melalui pelatihan intensif yang mencakup edukasi kesehatan, simulasi penanganan darurat, diskusi kelompok terarah, serta monitoring dan evaluasi berkala. Hasil: Kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan kader (p = 0,000; uji Wilcoxon), dengan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 56 menjadi 88. Selain itu, terbentuk prosedur operasional penanganan darurat hipertensi yang aplikatif dan dapat diterapkan di tingkat komunitas. Kesimpulan: Intervensi ini menghasilkan kader yang lebih responsif dalam memberikan pertolongan pertama, sehingga berkontribusi pada penurunan risiko komplikasi serta peningkatan kualitas hidup masyarakat. Kata Kunci: Hipertensi, Kegawatdaruratan, Kader PKK Posyandu, Edukasi, Simulasi.  ABSTRACT Introduction: Hypertension is a major public health issue that can lead to serious complications if not properly managed. Hypertensive emergencies often occur without clear initial symptoms, making communities less aware of the potential risks. This situation highlights the need for early detection and improved community preparedness as preventive measures to reduce morbidity and mortality. The high prevalence of hypertension in RW 10, Binong Village, Batununggal District, has not been supported by a structured emergency response system. PKK and Posyandu cadres, as the frontline of community health services, still face limitations in knowledge and skills to detect and manage hypertensive emergencies. Methods: This community service program aimed to strengthen cadre capacity through intensive training, including health education, emergency response simulations, focused group discussions, and regular monitoring and evaluation. Results: The program demonstrated a significant improvement in cadre knowledge (p = 0.000; Wilcoxon test), with the average knowledge score increasing from 56 to 88. In addition, an applicable standard operating procedure for hypertensive emergency management was successfully developed. Conclusion: This intervention produced cadres who are more responsive in providing first aid, thereby contributing to reduced risk of complications and improved community quality of life. Keywords: Hypertension, Emergency, PKK Posyandu Cadres, Education, Simulation.