Latar Belakang : Metode Ponseti kini menjadi standar emas global dalam penanganan clubfoot, namun penerapannya di daerah terpencil atau berpenghasilan rendah masih menghadapi tantangan nyata. Tinjauan ini bertujuan mengungkap bagaimana metode ini benar-benar bekerja di lapangan—bukan hanya secara teknis, tetapi juga dalam menghadapi hambatan budaya, logistik, dan sistem layanan. Metode : Kami melakukan tinjauan literatur sistematis mengikuti pedoman PRISMA, menganalisis tiga studi observasional berkualitas tinggi dari Ethiopia, Zimbabwe, dan pedesaan Amerika Serikat yang dipublikasikan antara 2009–2018. Penilaian kualitas menggunakan checklist JBI. Hasil : Ketiga studi menegaskan satu hal: keberhasilan jangka panjang metode Ponseti bergantung hampir sepenuhnya pada kepatuhan penggunaan brace pasca-koreksi. Di Zimbabwe, 87% anak yang menggunakan brace selama ≥2 tahun mencapai hasil sukses [6]. Di Ethiopia, meski semua kaki berhasil dikoreksi, relaps terjadi pada kasus yang tidak memakai brace [2]. Di New Mexico, anak Native American di pedesaan memiliki risiko relaps 120 kali lebih tinggi akibat ketidakpatuhan brace [7]. Faktor seperti pendapatan rendah, pendidikan orang tua, jarak ke fasilitas, dan kesenjangan budaya dalam komunikasi terbukti menjadi penghambat besar. Selain itu, alat penilaian seperti skor Roye—yang dikembangkan di negara maju—ternyata melewatkan 22,7% kasus yang sebenarnya butuh rujukan ulang, sementara skor ACT hanya melewatkan 7,4% [6]. Kesimpulan : Metode Ponseti memang sederhana dan murah, tetapi tidak cukup hanya mengandalkan casting yang tepat. Ia butuh pendekatan holistik: edukasi visual yang sesuai budaya, sistem follow-up berbasis komunitas, dan alat penilaian yang kontekstual. Dengan itu, setiap anak—bahkan di nagari paling terpencil—bisa mendapatkan kaki yang lurus dan masa depan yang berjalan bebas.
Copyrights © 2026