Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Perbandingan Fungsi Extremitas Atas pada Fraktur Metafise Distal Radius Intraartikuler Usia Muda Antara Tindakan Operatif Dan Non Operatif dengan Penilaian Klinis Quickdash Score Edi Burhan; Menker Manjas; Ardian Riza; Erkadius Erkadius
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i1.21

Abstract

AbstrakFraktur metafise distal radius merupakan fraktur dengan insiden tertinggi kedua pada usia tua di luar fraktur daerah panggul. Di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang terdapat 122 dari 612 kasus fraktur radius, antara Januari 2011 – Juni 2012. Tujuan utama terapi ini adalah pengembalian permukaan sendi ke posisi anatomis dengan fiksasi yang stabil dan pengembalian fungsi extremitas atas semaksimal mungkin. Metode: Penelitian ini berupa penelitian retrospektif yang dilakukan di poliklinik orthopaedi RSUP Dr M Djamil Padang pada bulan November-Desember 2012 pada pasien fraktur metafise distal radius intraartikuler usia muda yang mendapat tindakan operatif dibandingkan dengan kelompok non-operatif dengan penilaian klinis Quick DASH Score. Sampel yang digunakan sebanyak 30 orang dari 55 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Ada hubungan yang bermakna antara fungsi extremitas atas dengan penilaian Quick DASH Score antara tindakan operatif pada fraktur distal radius intraartikuler usia muda dengan tindakan non-operatif (p Fisher = 0,010). Tidak terdapat hubungan bermakna antara Quick DASH Score dengan jenis kelamin dan diagnosa kanan atau kiri. Pembahasan: Terdapat perbedaan yang bermakna antara pasien fraktur metafise distal radius intraartikuler pada usia muda yang mendapat tindakan operatif berupa ORIF dengan yang mendapatkan tindakan non-operatif berupa pemasangan Gips.Kata kunci: Fraktur Metafise Distal Radius, Tindakan Operatif dan Non Operatif, Quick Dash ScoreAbstractFracture metafise distal radius is fracture with second highest incident on old age besides a fracture in the pelvic area. In the Dr. M. Djamil Hospital found 122 from 612 cases fracture of radius from january 2011 to june 2012. The main purpose therapy is restore the joint in the surface position anatomically by fixation a stable and restore the function upper extremitas over their best. Method: This study is a retrospective conducted at the Orthopaedi clinic of Dr M Djamil Hospital in November-December 2012 on young age patinet with the distal radius metafise intrartikular fracture who got the operative treatment in compare with non-operative groups with clinical assessment Quick Dash Score. The sample used is 30 people from 55 people who meet criteria for inclusion. Result: There is meaningful relationship the function upper extremitas with Quick Dash Score a distal radius fracture actions on intraartikuler at a young age that got an operative treatment and non-operative (p Fisher = 0,010 S). There is not meaningful relationships between Quick Dash Score with gender and diagnosis right or left. Discussion: There is significant difference between patients of intraarticuler radius distal metafise fractur who get operatif treatment, such as ORIF and the pasients who get non-operatif treatment, such as Gips.Keywords: Metafise Distal Radius Fracture, Operatif and Non Operatif Treatment, Quick Dash Score
Model Klinis Prediktor Lama Rawat Inap pada Pasien Fraktur Femur: Analisis Multivariat Berdasarkan Morfologi dan Metode Fiksasi Riza, Ardian; Noverial; Harmi, Muhammad Pramana Khalilul; Sari, Mutia
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.295

Abstract

Pendahuluan: Fraktur femur merupakan cedera muskuloskeletal mayor yang sering memerlukan tatalaksana operatif dan rawat inap. Lama rawat inap (length of stay/LOS) menjadi indikator penting mutu pelayanan dan efisiensi rumah sakit. Berbagai faktor klinis seperti morfologi fraktur, metode fiksasi, usia, dan komorbid diduga memengaruhi LOS, namun data lokal mengenai model prediktor LOS pada fraktur femur masih terbatas. Tujuan Penelitian : Menyusun dan mengevaluasi model klinis prediktor lama rawat inap pada pasien fraktur femur berdasarkan morfologi fraktur, metode fiksasi, serta karakteristik pasien (usia, indeks massa tubuh/IMT, komorbid). Metode: Studi observasional analitik dengan desain retrospektif menggunakan data rekam medis fraktur femur di  RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH KARTIKA DOCTA periode 2024–2025. Terdapat 98 pasien fraktur femur; 97 pasien dengan data lengkap (termasuk IMT) dianalisis dalam model multivariat. Variabel dependen adalah LOS (hari). Variabel independen utama adalah morfologi fraktur (oblique, transverse, comminuted, lainnya) dan metode fiksasi (open reduction and internal fixation/ORIF, partial hip replacement/PHR, konservatif). Usia, IMT, dan jumlah komorbid dimasukkan sebagai kovariat. Analisis menggunakan regresi linear (ordinary least squares). Hasil: Rerata usia pasien 51,2 ± 24,3 tahun; 51,5% perempuan. Rerata IMT 21,6 ± 3,7 kg/m². Morfologi fraktur terbanyak adalah oblique (42,3%), diikuti transverse (36,1%) dan comminuted (17,5%). Metode fiksasi yang paling sering digunakan adalah ORIF (68,0%), diikuti PHR (19,6%) dan konservatif (12,4%). Sebagian besar pasien tidak memiliki komorbid (78,4%). Rerata LOS adalah 4,3 ± 1,5 hari (rentang 2–10). Rerata LOS berkisar antara 4,0 hari (comminuted) hingga 5,3 hari (morfologi lainnya), dan antara 4,2–4,4 hari pada berbagai metode fiksasi. Rerata LOS meningkat seiring jumlah komorbid (4,2 hari pada 0 komorbid, 4,6 pada 1, dan 5,2 pada 2 komorbid). Model regresi menghasilkan R² = 0,074 dan adjusted R² = –0,012. Tidak ada prediktor (morfologi fraktur, metode fiksasi, usia, IMT, jumlah komorbid) yang mencapai signifikansi statistik (p < 0,05). Kesimpulan: Dalam dataset ini, morfologi fraktur, metode fiksasi, usia, IMT, dan komorbid tidak membentuk model klinis prediktor LOS yang kuat pada pasien fraktur femur, dengan daya jelaskan sekitar 7% variasi LOS. Secara klinis terdapat kecenderungan LOS sedikit lebih panjang pada fraktur transverse dan pada pasien dengan komorbid lebih banyak, namun tren ini tidak signifikan secara statistik. Pengembangan model prediktif yang lebih akurat memerlukan penambahan variabel sistemik dan perioperatif serta peningkatan kualitas pencatatan data.
Analisis Jarak Tempuh dan Estimasi Waktu Transportasi Terhadap Penundaan Operasi pada Kasus Fraktur Femur Emergensi: . Riza, Ardian; Noverial; Khalilul Harmi, Muhammad Pramana; Sari, Mutia
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.298

Abstract

Pendahuluan: Fraktur femur merupakan kegawatdaruratan ortopedi yang memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi sistemik seperti tromboemboli vena dan pneumonia. Dalam sistem rujukan di Indonesia, pasien sering datang dari wilayah terpencil, sehingga jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi dianggap sebagai faktor potensial yang menunda operasi.Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi terhadap durasi antara masuk IGD hingga pelaksanaan operasi sebagai proksi penundaan operasi pada fraktur femur emergensi. Metode: Studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang dilakukan terhadap pasien fraktur femur emergensi di sebuah rumah sakit rujukan provinsi Sumatera Barat periode Januari 2024–Juni 2025. Data dikumpulkan dari rekam medis elektronik dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman serta regresi linier ganda.. Hasil: Dari 98 pasien, hanya 31 pasien (31,6%) yang memiliki data lengkap. Rata-rata jarak tempuh adalah 117,8 ± 113,2 kilometer dan estimasi waktu tempuh 3,5 ± 2,4 jam. Median durasi IGD–operasi adalah 9,8 jam (IQR: 3,0–29,0 jam). Tidak terdapat korelasi signifikan antara jarak tempuh (r = 0,21; p = 0,16) maupun estimasi waktu tempuh (r = 0,18; p = 0,22) dengan durasi IGD–operasi. Model regresi linier ganda menunjukkan R² = 0,046 (p = 0,20), tidak bermakna secara statistik. Kesimpulan: Jarak tempuh dan estimasi waktu transportasi tidak secara signifikan memengaruhi penundaan operasi fraktur femur emergensi. Faktor internal rumah sakit seperti ketersediaan ruang operasi dan sistem triase kemungkinan lebih dominan.
Efektivitas Metode Ponseti di Daerah Sumber Daya Terbatas: Tinjauan Literatur Sistematis Tentang Hasil, Hambatan, dan Adaptasi Kontekstual Riza, Ardian; Noverial; Khalilul Harmi, Muhammad Pramana; Sari, Mutia; Kamal, Mustafa; Yetti, Rahmi
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.313

Abstract

Latar Belakang : Metode Ponseti kini menjadi standar emas global dalam penanganan clubfoot, namun penerapannya di daerah terpencil atau berpenghasilan rendah masih menghadapi tantangan nyata. Tinjauan ini bertujuan mengungkap bagaimana metode ini benar-benar bekerja di lapangan—bukan hanya secara teknis, tetapi juga dalam menghadapi hambatan budaya, logistik, dan sistem layanan. Metode :  Kami melakukan tinjauan literatur sistematis mengikuti pedoman PRISMA, menganalisis tiga studi observasional berkualitas tinggi dari Ethiopia, Zimbabwe, dan pedesaan Amerika Serikat yang dipublikasikan antara 2009–2018. Penilaian kualitas menggunakan checklist JBI. Hasil : Ketiga studi menegaskan satu hal: keberhasilan jangka panjang metode Ponseti bergantung hampir sepenuhnya pada kepatuhan penggunaan brace pasca-koreksi. Di Zimbabwe, 87% anak yang menggunakan brace selama ≥2 tahun mencapai hasil sukses [6]. Di Ethiopia, meski semua kaki berhasil dikoreksi, relaps terjadi pada kasus yang tidak memakai brace [2]. Di New Mexico, anak Native American di pedesaan memiliki risiko relaps 120 kali lebih tinggi akibat ketidakpatuhan brace [7]. Faktor seperti pendapatan rendah, pendidikan orang tua, jarak ke fasilitas, dan kesenjangan budaya dalam komunikasi terbukti menjadi penghambat besar. Selain itu, alat penilaian seperti skor Roye—yang dikembangkan di negara maju—ternyata melewatkan 22,7% kasus yang sebenarnya butuh rujukan ulang, sementara skor ACT hanya melewatkan 7,4% [6]. Kesimpulan : Metode Ponseti memang sederhana dan murah, tetapi tidak cukup hanya mengandalkan casting yang tepat. Ia butuh pendekatan holistik: edukasi visual yang sesuai budaya, sistem follow-up berbasis komunitas, dan alat penilaian yang kontekstual. Dengan itu, setiap anak—bahkan di nagari paling terpencil—bisa mendapatkan kaki yang lurus dan masa depan yang berjalan bebas.
Efektivitas Dekompresi Minimal Invasif Versus Dekompresi Terbuka pada Stenosis Spinal Lumbal: Tinjauan Sistematis Literatur Riza, Ardian; Noverial; Khalilul Harmi, Muhammad Pramana; Sari, Mutia; Kamal, Mustafa; Yetti, Rahmi
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.314

Abstract

Latar Belakang: Teknik dekompresi minimal invasif (MIS) kini menjadi pilihan populer dalam penanganan stenosis spinal lumbal (LSS). Namun, banyak literatur kontemporer secara tidak tepat menyebut prosedur MIS—seperti laminotomi mikroskopik dengan tubular retractor—sebagai “laminectomy terbuka”, sehingga menciptakan ilusi perbandingan yang menyesatkan. Tujuan Penelitian: Menilai efektivitas klinis MIS dibandingkan laminectomy terbuka konvensional, yang secara operasional didefinisikan sebagai prosedur dengan insisi midline ≥4 cm, diseksi periosteal otot paraspinal, dan tanpa bantuan alat tubular atau endoskopi. Metode: Tinjauan sistematis ini mengikuti panduan PRISMA 2020. Pencarian dilakukan di PubMed, Scopus, dan Embase hingga Desember 2025. Hanya studi yang benar-benar membandingkan MIS dengan laminectomy terbuka sesuai definisi ketat yang dimasukkan. Risiko bias dinilai menggunakan ROBINS-I. Hasil: Dari 3.695 catatan, hanya satu studi (Nerland et al., 2015; n=885) yang memenuhi kriteria inklusi [1]. Studi ini menunjukkan bahwa MIS setara secara fungsional dengan laminectomy terbuka (selisih rata-rata ODI: 1,3 poin; batas ekivalensi = 8 poin; p<0,001 untuk ekivalensi) dan memberikan lama rawat inap yang lebih singkat (1,5–2,0 hari lebih pendek; p<0,001). Namun, tidak ada perbedaan signifikan dalam komplikasi setelah propensity matching. Yang lebih penting, tidak ditemukan studi kontemporer lain yang benar-benar membandingkan MIS dengan laminectomy terbuka konvensional, mengungkap kesenjangan bukti besar dalam literatur. Kesimpulan: Meskipun secara fungsional setara dan menawarkan keunggulan perioperatif, bukti komparatif yang valid hampir tidak ada. Klaim superioritas MIS atas “open” sering kali didasarkan pada perbandingan antar teknik minimal invasif, bukan terhadap prosedur terbuka sesungguhnya. Temuan ini sangat relevan untuk pengambilan keputusan klinis, terutama di negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia.
A Augmentasi Biologis dalam Penyembuhan Fraktur Tibia: Tinjauan Literatur Sistematis Tentang Efektivitas Plasma Kaya Trombosit, Konsentrat Aspirat Sumsum Tulang, dan Adjuvan Biologis Lainnya terhadap Pemulihan Radiologis dan Fungsional Riza, Ardian; Noverial; Khalilul Harmi, Muhammad Pramana; Sari, Mutia; Kamal, Mustafa
Scientific Journal Vol. 5 No. 2 (2026): SCIENA Volume V No 2, March 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i2.315

Abstract

Latar Belakang: Fraktur tibia memiliki angka nonunion hingga 30%, terutama pada kasus terbuka atau distal. Augmentasi biologis seperti plasma kaya trombosit (PRP), konsentrat aspirat sumsum tulang (BMAC), dan protein morfogenetik tulang rekombinan (rhBMP) semakin digunakan, namun bukti klinisnya masih terfragmentasi [1,2]. Tujuan: Mensintesis bukti klinis terkini mengenai efikasi, keamanan, dan indikasi optimal adjuvan biologis dalam penyembuhan fraktur tibia. Metode: Tinjauan literatur sistematis dilakukan mengikuti panduan PRISMA 2020. Pencarian di PubMed menghasilkan 27 catatan; setelah penyaringan, 16 studi klinis (10 uji acak terkontrol, 6 observasional) yang melibatkan >1.800 pasien dimasukkan [3]. Hasil: rhBMP-2 (12 mg) mengurangi intervensi sekunder sebesar 44% pada fraktur tibia terbuka, tetapi tidak bermanfaat pada fraktur tertutup [4,5]. rhBMP-7 non-inferior dibanding autograft pada nonunion tibia dan mempercepat penyembuhan fraktur distal [6–8]. PRP dan BMAC mencapai angka penyatuan 90–93% dalam studi kecil dengan prosedur minim invasif [9,10]. Hormon pertumbuhan meningkatkan marker biokimia tanpa manfaat klinis [11]. Tidak ditemukan efek samping mayor.Kesimpulan: Efektivitas augmentasi biologis bergantung pada konteks klinis: rhBMP-2 untuk fraktur terbuka, rhBMP-7 untuk nonunion/distal, dan PRP/BMAC sebagai alternatif berbiaya rendah. Standardisasi protokol diperlukan sebelum adopsi luas terapi seluler.
A Analisis Klaim Ilmiah pada Halaman Produk Ankle Brace untuk Cedera Pergelangan Kaki di Marketplace Global Riza, Ardian; Noverial; Khalilul Harmi, Muhammad Pramana; Sari, Mutia; Kamal, Mustafa; Yetti, Rahmi
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.323

Abstract

Latar Belakang: Perkembangan e-commerce telah memungkinkan konsumen memperoleh akses langsung terhadap alat ortopedi seperti ankle brace. Namun, informasi medis yang tercantum pada halaman produk sering kali tidak melalui proses verifikasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis klaim ilmiah pada deskripsi produk ankle brace untuk cedera pergelangan kaki di Amazon.com sebagai representasi marketplace global. Metode Penelitian: Studi ini dilakukan melalui analisis konten deskriptif terhadap 30 produk yang dipilih secara purposif berdasarkan popularitas dan relevansi medis. Evaluasi mencakup keberadaan klaim ilmiah, rujukan studi, parameter terukur, penggunaan istilah anatomi spesifik, serta kesesuaian dengan panduan klinis. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa 22 produk (73,3%) memuat klaim valid berbasis bukti, lima produk (16,7%) menyampaikan klaim lemah tanpa dukungan data, dan tiga produk (10,0%) mengandung klaim menyesatkan berbasis pseudosains terkait “ion tembaga”. Kesimpulan: Diperlukan regulasi yang lebih ketat terhadap iklan alat kesehatan di platform digital untuk melindungi konsumen dari informasi menyesatkan. Meskipun demikian, sebagian besar produsen profesional umumnya menyajikan klaim berbasis bukti.