Latar Belakang: Fraktur tibia memiliki angka nonunion hingga 30%, terutama pada kasus terbuka atau distal. Augmentasi biologis seperti plasma kaya trombosit (PRP), konsentrat aspirat sumsum tulang (BMAC), dan protein morfogenetik tulang rekombinan (rhBMP) semakin digunakan, namun bukti klinisnya masih terfragmentasi [1,2]. Tujuan: Mensintesis bukti klinis terkini mengenai efikasi, keamanan, dan indikasi optimal adjuvan biologis dalam penyembuhan fraktur tibia. Metode: Tinjauan literatur sistematis dilakukan mengikuti panduan PRISMA 2020. Pencarian di PubMed menghasilkan 27 catatan; setelah penyaringan, 16 studi klinis (10 uji acak terkontrol, 6 observasional) yang melibatkan >1.800 pasien dimasukkan [3]. Hasil: rhBMP-2 (12 mg) mengurangi intervensi sekunder sebesar 44% pada fraktur tibia terbuka, tetapi tidak bermanfaat pada fraktur tertutup [4,5]. rhBMP-7 non-inferior dibanding autograft pada nonunion tibia dan mempercepat penyembuhan fraktur distal [6–8]. PRP dan BMAC mencapai angka penyatuan 90–93% dalam studi kecil dengan prosedur minim invasif [9,10]. Hormon pertumbuhan meningkatkan marker biokimia tanpa manfaat klinis [11]. Tidak ditemukan efek samping mayor.Kesimpulan: Efektivitas augmentasi biologis bergantung pada konteks klinis: rhBMP-2 untuk fraktur terbuka, rhBMP-7 untuk nonunion/distal, dan PRP/BMAC sebagai alternatif berbiaya rendah. Standardisasi protokol diperlukan sebelum adopsi luas terapi seluler.
Copyrights © 2026