Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi kebijakan penguatan pasar dan keberlanjutan industri kain Subi di Kota Palu. Pendekatan yang digunakan adalah analisis kebijakan berbasis evidensi empiris. Data primer dari 154 konsumen dianalisis menggunakan regresi linier berganda (OLS). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan substitusi yang signifikan antara kain ATBM dan kain Subi (β = 0,226; p = 0,005). Selain itu, kain Subi berperilaku sebagai barang prestise, di mana kenaikan harga justru meningkatkan permintaan (β = 0,574; p < 0,001; Adjusted R² = 0,478). Temuan ini mengindikasikan bahwa permasalahan utama bukan terletak pada harga, melainkan pada struktur dan tata kelola pasar. Analisis masalah menggunakan metode USG menetapkan tekanan substitusi sebagai isu prioritas (skor 15/15). Evaluasi tiga alternatif kebijakan melalui kriteria Bardach menunjukkan bahwa penguatan ekosistem pasar melalui Peraturan Gubernur merupakan opsi paling komprehensif (skor 19/20). Kebijakan ini mencakup sertifikasi, segmentasi pasar, dan koordinasi lintas-perangkat daerah guna menjamin keberlanjutan industri kain tenun Subi secara jangka panjang.
Copyrights © 2026