Keterlambatan bicara (speech delay) merupakan gangguan perkembangan yang umum terjadi pada anak usia dini, dengan prevalensi global sekitar 15% dan 5–8% di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran orang tua dalam stimulasi bahasa, mengidentifikasi faktor risiko multidimensi (biologis, lingkungan, dan sosio-kultural), serta mengevaluasi efektivitas intervensi berbasis keluarga. Metode yang digunakan adalah tinjauan sistematis berdasarkan pedoman PRISMA dengan analisis 20 artikel terpilih dari Google Scholar, DOAJ, dan ScienceDirect. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi responsif orang tua, pola asuh demokratis, dan pendampingan dalam penggunaan media digital signifikan meningkatkan perkembangan bahasa anak. Faktor risiko utama meliputi jenis kelamin laki-laki, kelahiran prematur, paparan gadget berlebihan, serta mitos budaya yang menunda intervensi. Intervensi berbasis keluarga seperti program Hanen dan pendekatan berbasis budaya (e.g., lagu daerah) terbukti efektif, terutama di daerah dengan akses terbatas ke terapi wicara. Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan holistik yang melibatkan orang tua sebagai agen utama, dengan mempertimbangkan konteks sosio-kultural untuk optimalisasi hasil. Implikasi kebijakan mencakup edukasi orang tua, peningkatan akses layanan, dan pengembangan program intervensi yang berkelanjutan.
Copyrights © 2025