Penelitian ini bertujuan untuk membahas apa yang dimaksud dengan pemimpin jika melihat dari sudut pandang analisis hermeneutika Khaled Abou El Fadl. sehingga akan diuraikan bagaimana kerangka berpikir hermeneutik dalam penafsiran al-Qur'an sebagai teks, tuhan sebagai pengarang, dan manusia sebagai pembaca, kemundian mengimplementasikannya dalam surat An-nisa ayat 59. Metode pelitian ini ialah kualitatif dengan sumber kajian studi pustaka (library research). Sehingga hasil dari penelitian ini bahwa Kepemimpinan dalam term ulil amri melisik dari kacamata analisis Khaled cenderung tidak lagi bersifat otoriter karena telah dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran rasional, kontekstualisasi sosial, dan semangat demokratis dalam kehidupan umat Islam kontemporer. Namun mereka hanya layak ditaati jika keputusannya sejalan dengan prinsip keadilan, tidak bertentangan dengan nash syar‘i, dan dilakukan secara bebas tanpa tekanan. Artinya, umat memiliki hak untuk mengkritisi, bukan hanya mematuhi secara pasif. Adapun kerangka berpikir dalam menganalisis surah an-nisa ayat 59 sesuai dengan konsep negosiatif Khaled yang menyatakan bahwa terdapat tiga tahapan penting yang harus dilalui oleh seorang penafsir, yaitu: kompetensi, penetapan makna, dan perwakilan. Dalam kompetensi mesti menguraikan keontetikan ayat dengan memastikan bahwa pengarangnya benar dari Allah SWT dan Rasulullah SAW. Kemudian menetapkan makna teks Alquran, dengan 3 tugas utama yang harus dilakukan yakni pertama, memahami maksud pengarang yaitu Allah SWT dan Rasulullah SAW. Kedua, kajian teks yaitu al-Qur'an itu sendiri dengan mengidentifikasi makna historis, yaitu dengan menganalisis bahasa yang digunakan, hingga sejarah ketika ayat tersebut diturunkan. Ketiga, memahami maksud pembaca melalui konteks keadaan si pembaca melalui orang-orang yang dapat mewakilkan dalam memahami ayat.
Copyrights © 2026