Tingkat pengangguran merupakan indikator penting yang mencerminkan kondisi ekonomi serta kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah. Di Provinsi Kalimantan Barat, permasalahan pengangguran masih menjadi tantangan dalam upaya pembangunan daerah. Penelitian ini membentuk cluster optimal Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat berdasarkan tingkat pengangguran sebagai dasar perumusan kebijakan yang tepat. Data yang digunakan merupakan data sekunder tahun 2024 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat, dengan lima variabel penelitian, yaitu produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB ADHB), Persentase Penduduk Miskin, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Proses pengelompokan dilakukan dengan menghitung jarak antar objek menggunakan jarak Manhattan serta penentuan centroid optimal melalui inisialisasi sistematis pada K-Means++. Validasi menggunakan Elbow menunjukkan jumlah cluster optimal adalah K = 5. Hasil analisis menunjukkan bahwa cluster pertama merepresentasikan daerah dengan tingkat partisipasi angkatan kerja yang tinggi namun RLS yang rendah. Cluster kedua yang hanya terdiri atas Kota Pontianak menggambarkan wilayah dengan PDRB dan RLS tertinggi, tetapi memiliki TPT yang tinggi akibat ketidaksesuaian antara kualifikasi tenaga kerja dan ketersediaan lapangan kerja. Cluster ketiga mencerminkan daerah dengan kondisi PDRB terendah dan PPM tinggi, namun memiliki TPAK yang tinggi karena didominasi sektor informal. Cluster keempat menunjukkan wilayah dengan PPM yang cukup tinggi dan RLS yang cukup rendah. Sementara itu, cluster kelima menggambarkan wilayah dengan PDRB dan TPAK cukup rendah, namun RLS yang cukup tinggi. Sehingga adanya indikasi permasalahan struktural dalam penyerapan tenaga kerja.
Copyrights © 2026