Penelitian ini mengkaji penerapan kearifan lokal Sulawesi Selatan sebagai media pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa SMP kelas VIII untuk meningkatkan kemampuan komunikasi mereka. Kearifan lokal yang diintegrasikan meliputi tradisi lisan seperti pappaseng (petuah), elong (syair), serta nilai-nilai siri' na pacce yang menjadi pedoman hidup masyarakat Bugis-Makassar. Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran, wawancara semi-terstruktur dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen hasil karya siswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengintegrasian kearifan lokal dalam pembelajaran berbicara mampu meningkatkan motivasi siswa sebesar 78%, kepercayaan diri dalam berbicara meningkat 72%, dan kelancaran berbicara meningkat 65% dibandingkan pembelajaran konvensional. Siswa menunjukkan antusiasme tinggi ketika diminta menyampaikan pappaseng dengan bahasa mereka sendiri dan menceritakan pengalaman terkait nilai siri' na pacce. Meskipun terdapat tantangan seperti keterbatasan pemahaman awal siswa terhadap nilai-nilai lokal dan keberagaman latar belakang budaya, penelitian ini membuktikan bahwa pembelajaran berbasis kearifan lokal tidak hanya meningkatkan kompetensi berbicara tetapi juga memperkuat identitas budaya dan karakter siswa. Implikasi pedagogis dari penelitian ini menekankan pentingnya revitalisasi kearifan lokal dalam kurikulum bahasa Indonesia sebagai strategi pembelajaran yang kontekstual dan bermakna.
Copyrights © 2025