Penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa teks budaya populer tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang produksi makna dan legitimasi ideologis melalui praktik komunikasi simbolik; dalam konteks tersebut, narasi audiovisual menghadirkan dialog, konflik, dan representasi kuasa yang membentuk cara audiens memahami moralitas dan kepemimpinan; One Piece Arc Whole Cake Island menampilkan dinamika konflik yang intens sehingga relevan dikaji sebagai praktik retorika budaya. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana tradisi retorika persuasif direpresentasikan melalui dialog, tindakan, dan simbol visual, serta bagaimana makna denotatif, konotatif, dan mitologisnya dikonstruksi dalam narasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk retorika persuasif, menganalisis lapisan pemaknaannya menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, serta mengungkap makna sosial dan ideologis yang dinaturalisasi dalam teks. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan desain analisis teks audiovisual dalam paradigma interpretatif-konstruktivis, sementara teknik analisis dilakukan melalui tahapan denotasi, konotasi, dan mitos terhadap enam adegan kunci yang memuat praktik persuasi dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retorika persuasif bekerja secara multimodal melalui bahasa deklaratif, ancaman simbolik, negosiasi rasional, dan solidaritas emosional, serta pada tingkat mitologis menaturalisasi ideologi kepatuhan terhadap otoritas, pengorbanan sebagai kebajikan moral, legitimasi ilmiah sebagai dasar dominasi, dan kepemimpinan berbasis kepercayaan sebagai nilai yang dianggap wajar. Temuan ini menegaskan bahwa teks budaya populer berperan aktif dalam membentuk persepsi sosial tentang kekuasaan, konflik, dan moralitas melalui sistem tanda yang tampak sederhana namun sarat muatan ideologis, sekaligus merefleksikan dinamika sosial kontemporer dalam bentuk narasi simbolik yang persuasif.
Copyrights © 2025