Artikel ini menganalisis krisis lingkungan Sumatra 2025 dengan menelaah hubungan antara cuaca ekstrem dan kerusakan ekologis melalui perspektif keamanan lingkungan dalam Hubungan Internasional serta etika lingkungan dalam Islam. Dengan menggunakan analisis kualitatif terhadap laporan meteorologi, liputan investigatif, serta pendapat para ahli lingkungan, penelitian ini menemukan bahwa curah hujan ekstrem akibat aktivitas siklon tropis hanya menjadi pemicu awal, sementara kerusakan ekologis meliputi deforestasi, degradasi daerah aliran sungai, dan alih fungsi lahan menjadi faktor yang memperbesar skala bencana. Lemahnya fungsi penyangga alam meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap banjir dan longsor, sehingga bencana berubah menjadi krisis kemanusiaan dan keamanan. Dalam perspektif Islam, peristiwa ini mencerminkan konsekuensi dari pengabaian amanah manusia sebagai khalifah yang diwajibkan menjaga keseimbangan bumi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mitigasi ke depan harus mengintegrasikan pemulihan ekosistem, penegakan tata kelola lahan berkelanjutan, dan revitalisasi nilai-nilai lingkungan Islam untuk memperkuat ketahanan masyarakat.Kata Kunci: keamanan lingkungan; kerusakan ekologis; cuaca ekstrem; perspektif Islam; Sumatra 2025
Copyrights © 2025