Wabah penyakit ternak merupakan salah satu permasalahan serius yang mempengaruhi kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat agraris di Jawa pada masa kolonial, termasuk di wilayah Bekasi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis jenis wabah penyakit ternak yang terjadi di Bekasi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 (1880-1908), pola penyebarannya, serta respons pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap wabah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber utama penelitian berasal dari surat kabar kolonial sezaman yang memuat laporan resmi dan pemberitaan lapangan mengenai wabah penyakit ternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bekasi merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap wabah penyakit ternak seperti veepest (runderpest), antraks, penyakit mulut dan kuku, penyakit “ngorok”, dan Septichaemia Epizootica. Kerentanan tersebut berkaitan dengan intensitas lalu lintas ternak, keberadaan partikel tanah dan perkebunan, serta ketergantungan pada tenaga masyarakat hewan. Kebijakan kolonial berupa isolasi, penutupan wilayah, dan pemusnahan ternak sering kali menimbulkan dampak sosial-ekonomi, terutama akibat lemahnya mekanisme ganti rugi. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa wabah penyakit ternak tidak hanya mencerminkan masalah kesehatan hewan, tetapi juga menampilkan hubungan kekuasaan kolonial dan kerentanan struktural masyarakat pedesaan di Bekasi.
Copyrights © 2026