Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara komprehensif dan mendalam mengenai dinamika, tantangan multidimensi, serta strategi adaptasi yang dikembangkan oleh guru dalam mengimplementasikan kurikulum berbasis kompetensi, dengan fokus khusus pada transisi menuju Kurikulum Merdeka di Indonesia. Di tengah arus perubahan paradigma pendidikan global yang menuntut penguasaan keterampilan abad ke-21, guru berada di garis depan reformasi yang kerap kali diwarnai oleh kompleksitas teknis, psikologis, dan struktural. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi multikasus yang melibatkan berbagai jenjang satuan Pendidikan mulai dari sekolah dasar negeri, madrasah ibtidaiyah, hingga sekolah menengah penelitian ini mengintegrasikan data lapangan dan tinjauan literatur sistematis untuk memetakan fenomena adaptasi di lapangan. Temuan penelitian mengungkap bahwa dinamika adaptasi guru sangat dipengaruhi oleh fenomena "dualisme kurikulum", di mana satuan pendidikan menerapkan dua sistem kurikulum (Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka) secara simultan. Kondisi ini menciptakan beban kerja ganda yang signifikan, namun di sisi lain membuka ruang komparasi pedagogis yang memperkaya wawasan guru. Tantangan utama teridentifikasi pada tiga dimensi krusial: (1) dimensi kognitif-pedagogis berupa miskonsepsi mendasar mengenai pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen formatif; (2) dimensi struktural yang ditandai oleh kesenjangan infrastruktur digital (digital divide) dan inefektivitas model pelatihan guru yang bersifat pasif; serta (3) dimensi psikologis yang bermanifestasi dalam bentuk resistensi akibat kelelahan administratif (administrative fatigue) dan ketidakpastian kebijakan. Meskipun demikian, penelitian ini juga menemukan resiliensi yang kuat di kalangan guru melalui pengembangan strategi adaptasi, baik secara individu maupun kolektif. Strategi tersebut meliputi pembentukan komunitas belajar profesional (Professional Learning Communities) yang berfungsi sebagai wadah peer-scaffolding, modifikasi perangkat ajar berbasis kearifan lokal untuk mengatasi keterbatasan teknologi, serta transformasi peran kepala sekolah menjadi pemimpin instruksional yang protektif. Laporan ini merekomendasikan perlunya reorientasi fundamental dalam model pengembangan profesional guru, dari pendekatan diseminasi informasi menuju pendampingan berbasis praktik (coaching), serta penguatan ekosistem kolaboratif di tingkat satuan pendidikan untuk menjamin keberlanjutan reformasi kurikulum yang substantif.
Copyrights © 2026