Penggunaan dan pengelolaan ruang publik di Kota Semarang seringkali memicu konflik dan kepentingan yang saling bertentangan. Pengembangan pariwisata dan upaya pelestarian terutama berfokus pada Kota Tua, yang dikenal dengan bangunan-bangunan bersejarah peninggalan Belanda. Wacana perjuangan kelas memainkan peran penting dalam membentuk bagaimana ruang publik diakses, digunakan, dan dikendalikan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis wacana perjuangan kelas di ruang publik Semarang. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini berbasis lapangan, melibatkan observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Studi ini berfokus pada ruang publik di Semarang, termasuk Kota Lama, Lawang Sewu, Stasiun Tawang, Danau BSB, Banjir Kanal Barat, dan The Park Mall. Temuan menunjukkan bahwa perjuangan kelas tampak jelas di ruang-ruang tersebut. Di Kota Lama dan Stasiun Tawang, pengunjung dan penumpang berbaur tanpa batas kelas yang jelas, namun pembagian estetika dan non-estetika tetap ada, dipengaruhi oleh faktor sejarah dan lingkungan. Di Danau BSB, konversi area privat menjadi ruang publik dengan biaya masuk mencerminkan keterbatasan akses berbasis kelas. Demikian pula, pilihan rekreasi antara Banjir Kanal Barat dan The Park Mall menunjukkan bahwa ruang-ruang tertentu sebagian besar melayani kelompok sosial tertentu. Dinamika ini menggambarkan bahwa ruang publik di Semarang merupakan arena negosiasi antar kelas sosial, di mana akses, estetika, dan penggunaan mencerminkan hierarki sosial-budaya yang lebih luas.
Copyrights © 2026