Studi ini bertujuan mengeksplorasi potensi arsitektur lokal sebagai basis transformasi perancangan dari tradisi menuju transformasi ruang publik yang relevan bagi generasi muda. Penelitian ini berargumen bahwa desain arsitektur publik tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk bangunan permanen, melainkan dapat berupa ruang terbuka yang dinamis dan mampu mengakomodasi beragam aktivitas generasi muda. Konteks penelitian ini adalah sayembara perancangan arsitektur untuk generasi muda dengan titik tolak pada arsitektur tradisional Minahasa, yaitu Wale Tou. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui riset berbasis desain, yang merefleksikan proses transformasi rumah adat tradisional menjadi rancangan arsitektur sosial yang adaptif dan kontemporer. Hasil perancangan menegaskan tiga gagasan konseptual utama. Pertama, arsitektur tidak semata-mata dipahami sebagai bangunan, melainkan berpotensi menjadi pelingkup ruang publik berbasis elemen tradisional. Kedua, dinamika temporalitas perlu diperhitungkan untuk mengakomodasi berbagai kemungkinan fungsi ruang sosial. Ketiga, konteks tapak menjadi aspek penting yang memengaruhi proses transformasi arsitektur tradisional menuju arsitektur transformatif. Kesimpulannya, arsitektur tidak hanya berfungsi sebagai wadah, tetapi berpotensi menjadi pelingkup dinamis yang mampu menjawab kebutuhan spasial temporer sekaligus kontemporer generasi muda saat ini.
Copyrights © 2026