Di dalam kekristenan, adalah hal yang umum atau bahkan mungkin baku bahwa Allah disebut atau digambarkan sebagai seorang Bapa. Hal ini dapat dimaklumi karena Alkitab kita terdapat banyak penggambaran yang demikian, bahkan Yesus sendiri memanggil Allah juga dengan sebutan Bapa. Meskipun demikian, didalam Alkitab kita juga terdapat penggambaran-penggambaran Allah yang beraneka ragam. Namun dalam percakapan keseharian maupun dalam doktrin resmi gerejawi tidak ada percakapan yang menyediakan ruang percakapan tentang Allah sebagai figur perempuan. Padahal dalam Alkitab ada begitu banyak kisah yang menggambarkan peranan perempuan dan juga Allah yang melukiskan diri-Nya sebagai perempuan. Sehingga sering kali Alkitab dilihat dengan kacamata androsentrime sehingga kebebasan perempuan disisihkan. Apa makna Metafora Allah sebagai Perempuan dalam Injil Lukas 15:8-10? Bagaimana Metafora Allah sebagai Perempuan dapat memberi kontribusi bagi upaya mewujudkan kesetaraan Gender di dalam Gereja dan Masyarakat? Dan tujuan penelitiannya adalah: Mendeskrispsikan makna Metafora Allah sebagai Perempuan dalam Lukas 15:8-10? Mendeskrispsikan Metafora Allah sebagai Perempuan dalam Lukas 15:8-10 bagi upaya Mewujudkan Kesetaraan Gender di dalam Gereja dan Masyarakat? Metode penelitian yang digunakan adalah hermeneutik feminis yang diperkenalkan oleh Elisabeth Schüssler Fiorenza.
Copyrights © 2026