Pernikahan Kristen dipahami sebagai panggilan iman yang menuntut kesetiaan dan tanggung jawab seumur hidup, sehingga keutuhan rumah tangga menjadi bagian penting dari kesaksian gereja. Namun, realitas pelayanan gereja menunjukkan bahwa pembinaan pascanikah masih minim, bersifat insidental, dan cenderung reaktif, sementara pasangan suami-istri menghadapi berbagai tantangan relasional, ekonomi, spiritual, dan kultural setelah beberapa tahun pernikahan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pembinaan pascanikah berbasis Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam perspektif teologi praktika sebagai kerangka integratif bagi pelayanan keluarga gereja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan refleksi teologis terhadap literatur teologi praktika, PAK, pastoral keluarga, serta penelitian ilmiah. Analisis dilakukan secara deskriptif-teologis dengan menafsirkan temuan dalam kerangka integrasi antara pembinaan pascanikah, PAK, dan teologi praktika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan pascanikah di banyak gereja belum menjadi program sistematis dan berkelanjutan, sehingga diperlukan transformasi paradigma pelayanan dari pendekatan reaktif menuju pendekatan edukatif-formatif. PAK memiliki peran strategis sebagai dasar pedagogis pembinaan keluarga yang menempatkan keluarga sebagai ruang utama pendidikan iman, sedangkan teologi praktika menyediakan kerangka reflektif dan kontekstual untuk mengintegrasikan pengalaman hidup keluarga dengan refleksi teologis dan tindakan pastoral. Dalam konteks Papua, integrasi nilai-nilai Injil dengan kearifan lokal melalui pendekatan inkulturatif memperkuat relevansi pembinaan pascanikah bagi keluarga Kristen. Dengan demikian, pembinaan pascanikah berbasis PAK dan teologi praktika perlu direkonstruksi sebagai pelayanan gereja yang berkelanjutan, kontekstual, dan transformatif guna memperkuat keutuhan keluarga dan kesaksian iman gereja di tengah masyarakat.
Copyrights © 2026