Krisis sosio-ekologis yang mendesak di Indonesia, yang dicontohkan oleh proyek-proyek pembangunan ekstraktif seperti Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke, menuntut respons teologis yang relevan dari gereja. Penelitian ini mengidentifikasi adanya kesenjangan antara panggilan gereja untuk bertindak dan ketidakcukupan kerangka teologis yang ada, khususnya konsep koinonia (persekutuan) yang secara tradisional bersifat antroposentris dan apolitis. Tujuan penelitian ini adalah merekonstruksi konsep koinonia secara kritis untuk membangun sebuah paradigma teologis yang kokoh bagi respons ekologis gereja. Metode yang digunakan studi literatur kualitatif dan pendekatan teologis-kritis (dekonstruksi-rekonstruksi-sintesis), penelitian ini menganalisis sumber-sumber biblis, dokumen gerejawi mutakhir (Laudato Si'), dan literatur ekoteologi kontemporer. Kebaruan yang ditawarkan adalah perumusan konsep Koinonia Oikos sebagai sebuah persekutuan integral dalam rumah tangga ciptaan dalamnya mensintesiskan wawasan teologis dengan spiritualitas ekologis dari kearifan lokal masyarakat adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Koinonia Oikos memiliki implikasi transformatif yang signifikan, tidak hanya secara teologis, tetapi juga secara praktis. Konsep ini menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan katekis ekologis yang terstruktur, reformasi liturgi yang berperspektif ciptaan, dan reorientasi kurikulum pendidikan teologi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dengan mengadopsi paradigma Koinonia Oikos, gereja dapat bergerak melampaui aktivisme lingkungan yang parsial menuju sebuah pertobatan ekologis yang holistik, relevan secara kontekstual, dan berdaya profetis
Copyrights © 2026