Gulo, Eirene Kardiani
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Liturgi dinamis: Sintesis James K. A. Smith dan Gilles Deleuze-Félix Guattari dalam memahami liturgi dan hasrat Gulo, Eirene Kardiani
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1399

Abstract

This article examines the tension between two understandings of desire, with fundamental implications for liturgical practice, through a comparative analysis grounded in a literature review. James K. A. Smith argues that liturgy functions as a pedagogy of desire, working through the body, habits, and social imagination to shape faith in a directed manner. Gilles Deleuze and Félix Guattari, by contrast, understand desire as a productive force that is always in motion and cannot be unilaterally stabilized by any ritual structure. Rather than resolving this tension, this article proposes the concept of dynamic liturgy as a model that preserves formative structure as a theological foundation while simultaneously creating space for spontaneity, doubt, and authentic faith-seeking, particularly within academic campus communities. In a postmodern context marked by the erosion of singular authority and the growing pursuit of personal spirituality, dynamic liturgy emerges as a pastorally relevant response without relinquishing its communal and theological orientation   Abstrak Artikel ini mengkaji ketegangan antara dua pemahaman hasrat yang memiliki implikasi mendasar bagi praktik liturgi dengan menggunakan metode analisis komparatif berbasis kajian literatur. James K. A. Smith berpendapat bahwa liturgi berfungsi sebagai pedagogi hasrat yang bekerja melalui tubuh, kebiasaan, dan imajinasi sosial untuk membentuk iman secara terarah. Sementara itu, Gilles Deleuze dan Félix Guattari memahami hasrat sebagai kekuatan produktif yang selalu bergerak dan tidak dapat distabilkan secara sepihak oleh struktur ritual mana pun. Alih-alih menyelesaikan ketegangan tersebut, artikel ini mengusulkan konsep liturgi dinamis sebagai model yang mempertahankan struktur formatif sebagai fondasi teologis, sekaligus memberikan ruang bagi spontanitas, keraguan, dan pencarian iman yang autentik, khususnya bagi komunitas akademik kampus. Dalam konteks posmodern yang ditandai oleh erosi otoritas tunggal dan meningkatnya pencarian spiritualitas personal, liturgi dinamis hadir sebagai respons pastoral yang relevan tanpa melepaskan orientasi komunal dan teologis. 
Kebaktian Kebangunan Rohani sebagai Ruang Katarsis: Perspektif Teori Katarsis dan Embodied Experience Gulo, Eirene Kardiani
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 2 (2026): April 2026 (In Progress)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i2.1943

Abstract

Abstract. This study aimed to understand the cathartic experiences of young people in the Revival Service (KKR) and its implications for spiritual formation. The study was conducted using a qualitative hermeneutic phenomenological approach through in-depth interviews and participant observation toward six youth from the BNKP Church. Data analysis was conducted using Sigmund Freud's catharsis theory and Thomas Csordas's concept of embodied experience. The results revealed three main findings: first, the phenomenon of split catharsis indicates a tension between the urge to express emotions and social-communal norms; second, catharsis is interpreted as a spiritual experience that integrates psychological, physical, and faith aspects; third, the sustainability of the healing effect depends on community support and continued spiritual practice.Abstrak. Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman katarsis kaum muda dalam Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan implikasinya bagi pembentukan spiritualitas. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi hermeneutik melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap enam pemuda Gereja BNKP. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori katarsis Sigmund Freud dan konsep embodied experience Thomas Csordas. Hasil penelitian mengungkapkan mengungkap tiga temuan utama: pertama, fenomena split catharsis menunjukkan ketegangan antara dorongan ekspresi emosional dan norma sosial-komunal; kedua, katarsis dimaknai sebagai pengalaman rohani yang mengintegrasikan aspek psikologis, tubuh, dan iman; ketiga, keberlanjutan efek pemulihan bergantung pada dukungan komunitas dan praktik rohani lanjutan.