Pendahuluan. Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan di Indonesia yang memiliki peran penting dalam meningkatkan pendapatan devisa negara. Namun, produktivitas tanaman kakao saat ini mengalami kendala akibat banyaknya tanaman yang telah berusia tua, mengalami kerusakan, serta kurang produktif. Selain itu, tanaman kakao juga rentan terhadap serangan hama dan penyakit, yang berdampak pada penurunan hasil panen. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan memanfaatkan limbah kulit buah kakao sebagai pupuk organik, mengingat kandungannya yang kaya akan unsur hara esensial bagi pertumbuhan tanaman. Metode Pengumpulan Data. Terdiri dari 4 perlakuan dengan 6 ulangan yaitu K0 (kontrol, tanpa pupuk), K1 (250 gram/polibag), K2 (350 gram/polibag), dan K3 (450 gram/polibag). Parameter pengamatan yaitu tinggi bibit (cm), diameter batang (mm), jumlah daun (helai), berat basah akar (gram), dan berat kering akar (gram). Analisa Data. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non-Faktorial dan dianalisis menggunakan ANOVA, apabila hasil menunjukkan pengaruh nyata maka dilakukan uji lanjut BNT taraf 5%. Hasil dan Diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik berbahan kulit buah kakao memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi bibit, diameter batang, dan jumlah daun. Namun, pemberian pupuk ini tidak memberikan dampak nyata terhadap berat basah dan berat kering akar. Simpulan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka disimpulkan bahwa pemberian pupuk organik kulit buah kakao berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi bibit (cm), diameter batang bibit (mm), dan jumlah daun (helai) pada umur 12 MST. Namun, pada parameter berat basah akar (gram) dan berat kering akar (gram), tidak memberikan pengaruh yang signifikan serta perlakuan terbaik dalam penelitian ini adalah perlakuan K2 dengan dosis 350 g/polybag.
Copyrights © 2026