Penelitian ini bertujuan menganalisis revitalisasi ekonomi pesantren melalui sinergi strategis antara Pondok Pesantren Assalafie dan Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dalam kerangka model Hybrid-Adaptive Partnership. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif-eksploratif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren berada pada fase transisi dari pengelolaan ekonomi tradisional menuju manajemen semi-profesional. Aktivitas ekonomi diposisikan sebagai strategi institusional (wasilah) untuk menjaga independensi pendidikan (ghayah) melalui pengelolaan 19–20 unit usaha di bawah Badan Usaha Milik Pesantren Assalafie (BUMPA). Dukungan captive market lebih dari 2.000 santri serta inovasi manajemen likuiditas melalui skema float fund mampu menopang sekitar 30–40% biaya operasional non-gaji. Namun, kolaborasi dengan LKS menghadapi hambatan struktural berupa status tanah wakaf yang tidak dapat diagunkan serta tantangan kultural seperti tax phobia dan skeptisisme terhadap akad perbankan syariah. Sebagai solusi, penelitian ini merumuskan model Hybrid-Adaptive Partnership yang bertumpu pada tiga pilar: rekayasa kelembagaan melalui pola executing linkage koperasi, integrasi sistem pembayaran digital dua tingkat (Kartu Santri–Virtual Account/QRIS), serta inovasi produk pembiayaan sektoral seperti skema Musyarakah Yarnen dan Supply Chain Financing. Model ini dinilai efektif dan inklusif dalam menjembatani rigiditas perbankan dengan fleksibilitas kultur pesantren, sekaligus menciptakan multiplier effect bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model kolaborasi ekonomi pesantren yang adaptif, berkelanjutan, dan berbasis prinsip syariah.
Copyrights © 2026