Di Sumatera Barat, bentuk agroforestri tradisional yang paling representatif adalah parak. Ekosistem parak menyerupai hutan alam yang mencerminkan filosofi lokal masyarakat Minangkabau dalam memandang alam. Menganalisis struktur komunitas pohon berdasarkan kerapatan (K), kerapatan relatif (KR), frekuensi (F), frekuensi relatif (FR), dominansi (D), dominansi relatif (DR) dan Indeks Nilai Penting (INP) perlu dilakukan untuk menunjukkan spesies mana yang berpengaruh pada komunitas tersebut. Digunakan metode plot tunggal berukuran 20x20 meter (400m2) sebanyak 5 buah. Selain pengambilan data pada plot, pemilik parak dimana plot ditempatkan juga diwawancarai mengenai jenis tumbuhan dominan, tumbuhan prioritas, musim panen, status kepemilikan lahan, serta alasan mempertahankan parak dari segi budaya, ekonomi dan lingkungan. Penelitian ini menghasilkan struktur pohon pada sistem parak di Lubuk Basung memiliki tingkat keberagaman yang tinggi, tercermin dari temuan 26 spesies berbeda dalam luasan hanya 0,2 ha. Semakin kompleks struktur komunitasnya, semakin kuat identitas masyarakat Minangkabau dalam mempertahankan kemandirian pangan dan ekonomi Hal ini menunjukkan bahwa mempertahankan sistem Parak sama artinya dengan menjaga benteng terakhir biodiversitas di luar kawasan hutan lindung.
Copyrights © 2026