Konsumsi energi listrik yang tinggi pada sistem milling industri berkontribusi signifikan terhadap peningkatan intensitas karbon dan rendahnya efisiensi energi pada industri pengolahan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja energi dan profil emisi karbon sistem produksi tepung terigu melalui integrasi metode Life Cycle Assessment (LCA) dan Analytic Network Process (ANP) dengan batas sistem cradle-to-gate yang mencakup proses cleaning, dampening, conditioning, milling, packaging, dan distribusi. Hasil LCA menunjukkan bahwa proses milling merupakan hotspot utama dengan kontribusi sekitar 70–90% dari total dampak sistem dan nilai single score sebesar ±2,41E3 Pt dari total ±2,5E3 Pt. Kategori perubahan iklim (±2–3 Pt) dipengaruhi dominan oleh konsumsi energi listrik. Berdasarkan nilai Specific Energy Consumption (SEC) sebesar 60 kWh/ton dan faktor emisi grid nasional sebesar 0,749 kgCO₂/kWh, diperoleh intensitas karbon proses milling sebesar 44,94 kgCO₂/ton produk. Tahap distribusi memberikan kontribusi tambahan sebesar ±78,3 Pt akibat penggunaan bahan bakar diesel. Hasil ANP menunjukkan bahwa kriteria Technical Energy Performance memiliki bobot tertinggi (0,39120), diikuti Cost Impact (0,34732) dan Operational Feasibility (0,26148), dengan strategi prioritas utama berupa optimasi konsumsi energi listrik pada proses milling (0,10921). Integrasi LCA–ANP menghasilkan kerangka manajemen energi industri yang terstruktur melalui peningkatan efisiensi sistem motor listrik dan reduksi intensitas karbon pada operasi milling berdaya tinggi.
Copyrights © 2026