Pertunjukan Barong & Kris Dance di Batubulan merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan pariwisata yang merepresentasikan nilai-nilai kearifan Bali. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana tiga nilai utama: Rwa Bhineda, Tri Hita Karana, dan Taksu diwujudkan dalam struktur penyajian dan praktik pertunjukan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipan dan dokumentasi lapangan. Analisis data dilakukan dengan mengacu pada teori budaya simbolik Clifford Geertz untuk membaca tindakan dan simbol budaya dalam pertunjukan, serta pemikiran Paul Ricoeur untuk memperdalam penafsiran makna simbol yang terkait dengan nilai moral dan spiritual. Konsep kearifan lokal digunakan sebagai kerangka untuk mengidentifikasi nilai-nilai etis, ekologis, dan religius yang muncul dalam pementasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rwa Bhineda berfungsi sebagai dasar moral yang membingkai representasi dualitas dharma dan adharma dalam dramaturgi. Tri Hita Karana terlihat dalam integrasi unsur ritual, pola interaksi sosial, serta penggunaan elemen berbahan alam pada tata panggung. Taksu tampak melalui ekspresi, teknik tubuh, dan karakter performatif yang diwariskan oleh sekaa kesenian. Nilai-nilai tersebut memperkuat identitas budaya Bali dalam konteks pariwisata. Temuan ini memberikan kontribusi bagi pengembangan analisis seni pertunjukan berbasis nilai kearifan serta mendukung upaya pelestarian budaya lokal.
Copyrights © 2026