Penguasaan kata sambung adalah elemen krusial dalam keterampilan bahasa Inggris karena berfungsi dalam menciptakan hubungan antar gagasan dan menghasilkan kalimat yang teratur. Namun, kemampuan mahasiswa dalam memakai kata sambung dengan benar masih belum optimal, sehingga perlu pemahaman yang lebih dalam tentang cara mereka memahami dan menggunakan kata penghubung tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan serta pengalaman mahasiswa dalam memahami dan menggunakan kata sambung dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara langsung dengan dua mahasiswa dari program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Informasi dikumpulkan melalui sepuluh pertanyaan terstruktur yang mengeksplorasi pemahaman, pengalaman belajar, tingkat kesulitan, preferensi dalam penggunaan, serta strategi mereka dalam memahami kata sambung. Analisis dilakukan dengan cara mendeteksi pola jawaban dan mengelompokkan hasil berdasarkan fungsi, tantangan, dan praktek penggunaan kata sambung dalam berkomunikasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kedua mahasiswa menganggap kata sambung sebagai bagian penting untuk menyusun kalimat yang teratur, mengalir, dan mudah dipahami. Mereka cenderung lebih sering memakai kata sambung sederhana seperti "and," "but," dan "because" karena dianggap lebih praktis dan familiar, sedangkan kata sambung yang lebih kompleks seperti "although," "however," atau "whereas" masih terasa membingungkan. Kata sambung terbukti membantu mereka dalam merangkai kalimat panjang dengan struktur yang lebih baik dan menghindari kalimat yang terputus-putus. Proses belajar mereka berlangsung secara bertahap melalui pembelajaran formal di sekolah, praktik menulis, dan membaca teks dalam bahasa Inggris. Keduanya menekankan bahwa latihan yang berulang, membaca contoh, dan memahami konteks merupakan strategi terbaik untuk menguasai penggunaan kata sambung. Penelitian ini memiliki batasan karena jumlah partisipan yang sangat sedikit sehingga hasil tidak bisa digeneralisasikan secara luas. Selain itu, data yang diperoleh hanya merefleksikan pandangan, bukan kemampuan sebenarnya dalam menggunakan kata sambung. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan pentingnya pembelajaran kata sambung untuk meningkatkan keterampilan menulis dan komunikasi mahasiswa. Penelitian lebih lanjut disarankan melibatkan lebih banyak peserta dan menggabungkan wawancara dengan analisis tulisan mahasiswa untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif. Temuan ini dapat menjadi dasar pengembangan strategi pembelajaran tata bahasa yang lebih praktis, khususnya dalam memahami dan menerapkan kata sambung secara efektif.
Copyrights © 2026