Penelitian ini menganalisis konstruksi dan manifestasi Fear of Missing Out (FOMO) pada peserta acara Sociology Culture and Running (Soculrun), yang terbuka bagi mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR) maupun masyarakat umum. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menelaah bagaimana eksposur terhadap unggahan aktivitas lari, praktik pencitraan diri, serta dinamika perbandingan sosial di media sosial mendorong partisipasi dalam kegiatan yang menggabungkan olahraga dan elemen budaya tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FOMO berfungsi sebagai pendorong utama keikutsertaan, memunculkan tekanan simbolik terkait performativitas aktivitas lari, estetika tubuh aktif, hingga pilihan atribut seperti sepatu berteknologi karbon. Dorongan ini tidak selalu lahir dari minat olahraga atau kesadaran kesehatan, tetapi sering kali dari kebutuhan mempertahankan relevansi dan legitimasi sosial dalam ruang digital. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman mengenai relasi antara budaya media sosial, identitas sosial, dan pola partisipasi publik dalam aktivitas komunitas berbasis tren kekinian.
Copyrights © 2026