Abstrak - Media sosial menjadi tempat untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Media sosial juga menjadi tempat untuk bertukar informasi serta tempat untuk bertukar pikiran. Akibat adanya proses pertukaran informasi dan pikiran tersebut, muncullah komunitas-komunitas digital yang terdiri atas pengguna yang memiliki kesamaan akan keinginan. Pada zaman ini, meme menjadi alat komunikasi yang praktis. Karena, meme dengan praktisnya memberikan jelemaan tentang kehidupan yang sudah terjadi. Meme merupakan alat komunikasi menghibur, namun sekarang menjadi alat untuk menyampaikan stereotip secara tak langsung. Meme Jomok adalah konten meme yang secara langsung menampilkan laki-laki berkulit hitam yang berotot, maskulin, dan menampilkan pose yang homoerotik. Hal tersebut terjadi pada suatu komunitas yang bernama Sungut Lele. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konten Meme Jomok sebagai konten interseksionalitas di media sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipatif digital, wawancara, dan studi dokumen. Teori yang digunakan adalah teori interseksionalitas yang dikemukakan oleh Kimberle Crenshaw. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Komunitas Sungut Lele secara praktis mengunggah meme yang memiliki visual interseksionalitas terhadap orang kulit hitam. Orang kulit hitam divisualisasikan sebagai pria kulit hitam yang berotot, erotis, dan berorientasikan homoseksual. Konten tersebut senantiasa memberikan stereotip baru terhadap orang kulit hitam yang menimbulkan ketidaknyamanan terhadap suatu individu. Temuan tersebut menunjukkan meme tidak hanya sebagai alat komunikasi yang penuh hiburan, tetapi juga alat untuk menyalurkan stereotip baru secara tak langsung kepada audiens. Kata kunci: Interseksionalitas; Komunitas Virtual; Meme; Observasi Digital; Stereotip
Copyrights © 2025