Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pergeseran paradigma humor televisi di Indonesia dari komedi slapstick menuju humor verbal berbasis kecerdasan linguistik, sebagaimana direpresentasikan oleh acara Waktu Indonesia Bercanda (WIB). Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi mekanisme pembentukan humor dalam segmen Teka-Teki Sulit (TTS) melalui pendekatan pragmastilistika. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC) terhadap sumber data berupa tayangan WIB tahun 2017. Analisis dilakukan secara komplementer menggunakan metode agih untuk struktur kebahasaan dan metode pragmatik fungsional untuk struktur wacana. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, inkongruitas humor didominasi oleh ambiguitas gramatikal (58,3%), di mana penutur memanipulasi struktur sintaksis dan pergeseran fungsi kata, bukan sekadar plesetan fonetik. Kedua, penutur mendominasi interaksi menggunakan tindak ilokusi asertif (60%) yang berfungsi sebagai aggressive rationality atau alat untuk memaksakan logika absurd agar diterima sebagai kebenaran. Ketiga, ditemukan struktur pertuturan khas yang disebut Sirkulus, yang bergerak sistematis melalui fase inisiasi, distraksi, inkongruitas, rasionalisasi, hingga resolusi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa humor Cak Lontong bukanlah spontanitas, melainkan hasil rekayasa pragmatik berupa kesalahpahaman yang terencana (planned misunderstanding) untuk menunda kepuasan kognitif penonton hingga tercapai klimaks tawa melalui pembenaran logika yang menyimpang.
Copyrights © 2026