Kelimpahan ikan pelagis sangat dipengaruhi oleh sifat bio-fisik perairan Indonesia yang dinamis. Hal ini terkait dengan fenomena oseanografi seperti upwelling, throughflow dan coastal discharge yang turut berperan dalam pertumbuhan ekosistem pesisir. Untuk keperluan ini, teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dapat dimanfaatkan dalam memetakan informasi lingkungan seperti suhu permukaan laut, klorofil dan kekeruhan perairan secara spasial maupun multi temporal. Pengukuran lapangan (in-situ) diperlukan untuk verifikasi dan kajian di kedalaman. Dalam makalah ini, hubungan antara fenomena oseanografi yang dipengaruhi oleh iklim musiman dengan keberadaan ikan pelagis dikaji berdasarkan interpretasi data oseanografi, remote sensing dan jumlah tangkapan ikan. Fenomena pergerakan masa air (throughflow) Laut Jawa menuju Samudera Hindia melalui Selat Sunda diduga turut berperan dalam penyebaran ikan pelagis yang mengakibatkan bertambahnya rata-rata jumlah tangkapan di perairan tersebut. Meningkatnya densitas ikan pelagis pada perairan upwelling disebabkan oleh ketersediaan makanan yang cukup untuk larva, ikan-ikan kecil dan besar termasuk ikan pelagis pemangsa seperti tuna. Hasil kajian memperlihatkan bahwa musim angin timur (Juni-September) merupakan musim panen bagi nelayan yang melaut di perairan Samudera Hindia, Laut Jawa dan Selat Sunda. Pada saat El Nino tahun 1997, upwelling di Samudera Hindia terpantau hingga Januari 1998, dimana kondisi ini tidak dijumpai pada pengamatan tahun 1999-2001.ABSTRACTThe bio-physical characteristics of Indonesia dynamic waters influence the abundance of pelagic fishes. This include oceanographical phenomenon such as upwelling, throughflow and coastal discharge that also role in the development of coastal ecosystem. For this purpose, remote sensing technology can be used in mapping the condition of environment such as sea surface temperature, chlorophyll and water clarity spatially or multi-temporally. Field measurement (in-situ) is needed for verification and assessment in sea depth. ln this paper, the relationship between the oceanographical phenomenons which is influenced by the seasonal climate with the existence of pelagic fishes rb assessed based on interpretation of oceanography data, remote sensing data and the number of fish catch. The throughflow of Java Sea to Hindia Ocean is believed to contribute the distribution of pelagic fishes causing the increase of fish catch in that area. The increase in density of pelagic fishes in upwelling waters is caused by the food availability to larva, small and large fishes including predator pelagic fishes such as tuna. The research also shows that east wind season (June-September) is the harvest time for fishermen in Hindia Ocean, Java Sea and Sunda Strait. During et Nino in 1997, upwelling in Hindia Ocean was observed until January 1998, this condition was not met in 1999-2001Kata Kunci : Ikan Pelagis, Oseanografi, Penginderaan Jauh, Lumbung lkan Keyword : Pelagic Fish, Oceanographic, Remote Sensing, Fishing Ground
Copyrights © 2008