Meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi yang tidak diimbangi pertumbuhan lapangan kerja formal melahirkan fenomena pengangguran terdidik sebagai persoalan struktural yang kian mendesak untuk diatasi. Penelitian ini bertujuan memetakan cara pandang mahasiswa ekonomi terhadap berbagai aspek ketenagakerjaan terdidik, mulai dari akar penyebab pengangguran, pengaruh digitalisasi, efektivitas intervensi pemerintah, relevansi pendidikan tinggi, hingga kesiapan personal memasuki dunia kerja. Studi ini menerapkan metode deskriptif kualitatif dengan pengambilan sampel purposif terhadap 100 mahasiswa aktif dari program studi Ekonomi Universitas Negeri Medan, menggunakan kuesioner daring sebagai instrumen pengumpulan data yang kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif melalui tabulasi frekuensi dan interpretasi naratif. Mayoritas responden menilai ketersediaan lapangan kerja masih jauh dari memadai, dengan standar kualifikasi rekrutmen yang terlampau tinggi sebagai hambatan terbesar bagi lulusan baru, diikuti ketidaksesuaian kompetensi antara lulusan dan kebutuhan industri. Teknologi digital dipandang secara ambivalen: di satu sisi membuka peluang baru di sektor ekonomi digital, namun di sisi lain menggerus posisi pekerjaan konvensional melalui otomasi. Kebijakan pemerintah dinilai belum menghasilkan dampak nyata dalam menjembatani lulusan dengan dunia industri, sementara mahasiswa secara personal mengaku siap bersaing dengan mengandalkan jejaring profesional dan sertifikasi kompetensi sebagai strategi utama. Hasil studi ini menegaskan urgensi penyelarasan kurikulum pendidikan tinggi, kebijakan ketenagakerjaan, dan agenda transformasi digital guna memperluas penyerapan tenaga kerja terdidik secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026