Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan kembali makna luka dari sudut pandang teologis dalam konteks keluarga disabilitas. Disabilitas seringkali dipahami sebagai luka permanen dan tak tersembuhkan. Stigma sosial tentang disabilitas memengaruhi kebernilaian dan identitas keluarga. Dalam penelitian ini disabilitas dimaknai sebagai pengalaman psikososial dan teologis keluarga tempat dimana keluarga dapat menjalani proses pembaruan makna kehidupan bersama dengan Allah dan sesama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif konseptual melalui studi literatur dengan integrasi psikologi keluarga dan teologi. Logotherapy digunakan sebagai kerangka teoretis untuk menjembatani proses meaning-making antara perspektif psikologis dan teologis. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa proses pemaknaan ulang luka membuka ruang bagi pembangunan kembali family self-esteem yang menjadi dasar pembentukan resiliensi keluarga disabilitas.
Copyrights © 2026