Kawasan heritage Melaka tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga membentuk ruang hidup yang aktif berinteraksi dengan aktivitas masyarakat sehari-hari. Penelitian ini menyoroti pola perilaku singgah pejalan kaki pada Lorong Hang Jebat, sebuah ruang transisi yang menghubungkan Jonker Street dengan tepian Sungai Melaka. Meskipun lorong ini sederhana, kehadiran elemen seperti mural, batu bertulisan, serta aktivitas spontan pengamen jalanan menjadikannya lebih dari sekadar jalur lintasan. Ruang ini berfungsi sebagai titik jeda, ruang sosial, sekaligus bagian dari pengalaman berkunjung ke kawasan heritage. Melalui metode observasi lapangan dan analisis spasial, penelitian menemukan bahwa keputusan pejalan kaki untuk berhenti tidak hanya dipicu oleh faktor praktis seperti tempat duduk, teduhan, maupun aksesibilitas, tetapi juga oleh kualitas atmosfer ruang. Narasi sejarah, nilai estetika, serta rasa keterhubungan emosional dengan lingkungan sekitar turut menjadi alasan penting. Hasil kajian menegaskan bahwa ruang transisi berskala kecil dapat memperkaya pengalaman pedestrian apabila menghadirkan kenyamanan, estetika, dan identitas lokal. Temuan ini memberikan kontribusi signifikan bagi strategi perancangan ruang publik, terutama di kawasan heritage, agar tidak hanya menekankan aspek fungsional, tetapi juga bersifat kontekstual, peka budaya, dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026