Produksi rumput laut di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, memiliki potensi sangat besar, namun hasil produksinya masih fluktuatif dan belum optimal dibandingkan dengan potensi budidayanya. Tantangan utama yang dihadapi meliputi aspek ekonomi, sosial, lingkungan, teknologi, dan kelembagaan. Akses modal yang terbatas, ketergantungan pada tengkulak, serta fluktuasi harga menghambat pertumbuhan produksi budidaya rumput laut. Dari sisi lingkungan, gangguan dari sampah rumah tangga, penambangan pasir, dan serangan hama penyakit mengurangi kesuburan perairan lokasi budidaya. Aspek sosial budaya juga menjadi kendala dengan konflik lahan budidaya dan kelembagaan yang lemah. Keterbatasan teknologi pengolahan rumput laut juga menghambat penambahan nilai produk. Rekomendasi kebijakan yang didorong mencakup penguatan koperasi nelayan untuk akses modal pembudidaya, peningkatan adopsi teknologi pengolahan, serta pembenahan kelembagaan dan peraturan zonasi untuk mencegah konflik lahan. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat pelaku budidaya sangat dibutuhkan untuk menciptakan kondisi yang mendukung keberlanjutan budidaya rumput laut.
Copyrights © 2026