Artikel ini mengkaji integrasi antara konsep tabayyun dalam Al-Qur'an dengan falsafah Banjar “Bisa-Bisa Maandak Awak†sebagai dasar etika sosial di era digital. Pemilihan topik ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penyebaran informasi tanpa verifikasi yang memicu konflik sosial. Tabayyun sebagai prinsip kehati-hatian dalam Islam dinilai selaras dengan nilai budaya lokal Banjar yang menekan pengendalian diri dan keharmonisan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan tafsir tematik dan analisis budaya. Data primer diperoleh dari ayat Al-Qur'an QS al-ḤujurÄt [49]:6 dan literatur tentang budaya Banjar. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesesuaian nilai antara ajaran Qur'ani dan falsafah lokal dalam membentuk karakter masyarakat yang kritis dan bijak dalam bermedia. Integrasi dua nilai ini membentuk landasan etika sosial digital yang kontekstual dan Islami. Temuan ini penting untuk pengembangan dakwah budaya dan pendidikan karakter berbasis nilai lokal sebagai strategi penguatan moderasi beragama dan ketahanan sosial.
Copyrights © 2025