Perkawinan anak merupakan fenomena sosial yang masih banyak dijumpai di masyarakat Indonesia. Praktik ini membawa berbagai konsekuensi sosial, salah satunya adalah munculnya beban ganda yang dialami oleh perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna beban ganda bagi perempuan pada keluarga hasil perkawinan anak serta relevansinya terhadap pembelajaran IPS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan berfokus pada analisis konseptual dan temuan empiris terkait pengalaman perempuan pelaku perkawinan anak. Penelitian ini berlokasi di Desa Lembeyan Wetan. Subjek terdiri dari lima perempuan pelaku perkawinan anak yang diwawancarai secara mendalam. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori konstruksi sosial, teori interaksi simbolik, serta diperkuat oleh teori feminisme dan konstruktivisme. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beban ganda dimaknai sebagai bentuk tanggungjawab dan pengorbanan perempuan dalam menjalankan peran domestik dan peran produktif sekaligus, yang sering kali terjadi pada kehidupan sosial di masyarakat. Beban ganda tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga pada psikologis dan kesempatan pengembangan diri perempuan. Fenomena ini memiliki relevansi yang kuat dengan pembelajaran IPS, terutama dalam materi isu sosial, relasi gender, dan ketimpangan sosial. Integrasi fenomena beban ganda perempuan dalam pembelajaran IPS dapat menjadi sumber belajar kontekstual untuk menumbuhkan kesadaran kritis peserta didik terhadap realitas sosial dan pentingnya keadilan gender.
Copyrights © 2026