Globalisasi memicu paradoks pasar di mana konsumen kini lebih mencari identitas autentik berbasis lokalitas. Namun, kekayaan budaya Jawa Timur sering kali hanya menjadi artefak historis daripada aset strategis branding. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi mekanisme transformasi kearifan budaya menjadi resonansi merek dan dampaknya terhadap daya saing ekonomi regional di Jawa Timur. Menggunakan pendekatan kualitatif-interpretif dengan logika induktif, penelitian ini menerapkan strategi studi kasus jamak pada Batik Aroma Teraphy (Madura), Batik Bambu Mujur (Lumajang), dan Gerabah Dinoyo (Malang). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap pemilik merek, pakar, serta konsumen. Analisis dilakukan menggunakan model analisis tematik Braun & Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi kearifan lokal membangun resonansi merek melalui tiga mekanisme: (1) Inovasi Budaya, yakni dekonstruksi tradisi menjadi solusi fungsional-sensorik seperti batik aromaterapi dan estetika minimalis; (2) Konstruksi Identitas, melalui "Self-Identity Congruity" yang menciptakan cultural capital dan loyalitas premium di mata konsumen ; serta (3) Koneksi Geografis, menggunakan filosofi lokal (misal: Pring Sedapur) yang selaras dengan nilai keberlanjutan global. Dampak ekonomi regional termanifestasi dalam efek multiplier berupa revitalisasi rantai pasok lokal, spesialisasi tenaga kerja, dan penguatan place branding. Penelitian menyimpulkan bahwa daya saing regional Jawa Timur bertumpu pada keseimbangan antara integritas warisan budaya dan inovasi pasar. Model ini memvalidasi Resource-Based View (RBV) di mana keunikan budaya yang bersifat path-dependent menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang resilien.
Copyrights © 2026