Dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama merupakan polemik epistemologis yang terus diperdebatkan dalam diskursus keilmuan Islam. Dikotomi ini kerap melahirkan mispersepsi bahwa ilmu umum berada di luar kerangka ilmu agama, padahal pandangan tersebut bertentangan dengan prinsip integralistik dalam Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep epistemologi Islam—khususnya bayani, burhani, dan irfani—serta menganalisis kontribusinya terhadap pengembangan ilmu umum, terutama dalam bidang humaniora. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tradisi intelektual Islam klasik tidak dikenal pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum, karena keduanya dipandang sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi dalam memahami realitas dan mengaktualisasikan ajaran Islam. Epistemologi Islam melalui pendekatan integratif-interkonektif menawarkan kerangka konseptual yang menghubungkan ilmu keagamaan dengan ilmu alam, sosial, dan humaniora. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga mendorong proses objektivikasi ilmu sebagaimana dikemukakan oleh Kuntowijoyo, di mana ilmu yang berakar dari nilai-nilai Islam dapat diterima secara universal sebagai pengetahuan yang rasional dan relevan, termasuk oleh masyarakat non-Muslim.
Copyrights © 2026