Urgensi "Neurodakwah" muncul sebagai disiplin interdisipliner yang krusial untuk memetakan bagaimana pesan transendental diproses secara neurobiologis. Integrasi ini diperlukan untuk mentransformasi metodologi dakwah dari pendekatan doktrinal-pedagogis murni menuju paradigma rasional-empiris yang berbasis pada mekanisme sistem saraf pusat. Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi fungsi kognitif otak, khususnya Prefrontal Cortex (PFC), serta aplikasi prinsip persuasi Robert Cialdini dan teknik Neuro-Linguistic Programming (NLP) dalam optimasi komunikasi dakwah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuasi-kualitatif dengan paradigma post-positivistik, di mana teori digunakan sebagai alat interpretasi untuk menyeimbangkan fakta neuro-objektif dengan kedalaman makna pengalaman spiritual subjektif. Sumber data meliputi literatur neurosains-tafsir dan transkrip interaksi Syaikh Uthman (One Message Foundation). Temuan menunjukkan bahwa PFC merupakan manifestasi biologis dari konsep N??iyah sebagai pusat kendali moral. Praktik ibadah (shalat, dzikir, puasa) terbukti merekayasa neuroplastisitas fungsional dengan melakukan down-regulation pada amigdala dan Default Mode Network (DMN). Strategi persuasi Syaikh Uthman secara efektif memanfaatkan prinsip Authority dan Behavioral Flexibility untuk memitigasi resistensi kognitif audiens lintas agama.
Copyrights © 2026