Pendidikan inklusif pada anak usia dini memiliki peran strategis dalam membentuk pemahaman terhadap keberagaman, pengembangan empati, serta tanggung jawab sosial. Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman guru Taman Kanak-Kanak Sekolah Eksperimental Mangunan dalam memahami dan menerapkan pembelajaran inklusivitas. Pendekatan kualitatif menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis diterapkan melalui wawancara mendalam dengan lima guru, untuk mengidentifikasi makna, praktik, dan tantangan dalam pendidikan inklusif. Temuan menunjukkan guru memaknai inklusivitas sebagai nilai kemanusiaan yang berakar pada keyakinan religius dan prinsip keadilan sosial, serta menerapkannya melalui program berbagi, interaksi langsung dengan orang dengan disabilitas, dan media audiovisual. Strategi ini mendorong partisipasi aktif anak, membangun pemahaman terhadap perbedaan, dan mengembangkan kemampuan sosial serta penghargaan terhadap kontribusi individu lain. Hasil penelitian menegaskan guru sebagai fasilitator, perancang pengalaman, dan agen perubahan yang membentuk budaya inklusif di kelas, sekaligus memperkuat integrasi nilai moral dan praktik pedagogis dalam pendidikan anak usia dini.
Copyrights © 2026