Abstrak: Evolusi pesat media digital, khususnya platform podcast, telah merevolusi cara publik menengahi dan menanggapi wacana agama yang sensitif tentang Tuhan, agama, dan iman. Studi ini mengkaji bagaimana podcast "Curhat Bang Denny Sumargo" memfasilitasi wacana publik tentang moderasi agama dan pemahaman antaragama, secara khusus berfokus pada episode "Tuhan Hanya Satu, Mengapa Agama Berbeda?" yang menampilkan Ustadz Khalid Basalamah. Menggunakan studi kasus kualitatif yang terintegrasi dengan metode ilmu sosial komputasi, penelitian ini menganalisis kumpulan data yang kuat dari 33.290 komentar YouTube menggunakan platform Communalytic.org. Analisis menggunakan algoritma VADER dan TextBlob untuk klasifikasi sentimen, API Perspektif untuk pemetaan toksisitas, dan HDBSCAN untuk pengelompokan kesamaan semantik 3D, dievaluasi melalui lensa teoretis Teori Penerimaan Stuart Hall. Temuan mengungkapkan bahwa penerimaan publik didominasi oleh sentimen netral (51,05% hingga 75,38%) dan positif (22,22% hingga 42,64%), menunjukkan bahwa mayoritas audiens memproses masalah teologis sensitif secara reflektif dan kognitif daripada reaktif. Interaksi publik di bagian komentar ditemukan sangat beradab, ditandai dengan skor toksisitas umum rata-rata yang sangat rendah 0,10086, dengan resistensi oposisi dan komentar beracun tetap terisolasi secara semantik di pinggiran. Pada akhirnya, studi ini menyimpulkan bahwa interaksi audiens sebagian besar selaras dengan posisi Negosiasi Resepsionis, membuktikan bahwa podcast hiburan yang diselenggarakan oleh tokoh publik non-otoritatif dapat secara efektif berfungsi sebagai ruang wacana publik digital inklusif (digital majlis) yang mengurangi polarisasi dan mendorong komunikasi yang beradab Abstract: The rapid evolution of digital media, particularly podcast platforms, has revolutionized how the public mediates and responds to sensitive religious discourses concerning God, religion, and faith. This study examines how the "Curhat Bang Denny Sumargo" podcast facilitates public discourse on religious moderation and interfaith understanding, specifically focusing on the episode "God is Only One, Why Are Religions Different?" featuring Ustadz Khalid Basalamah. Employing a qualitative case study integrated with computational social science methods, this research analyzed a robust dataset of 33,290 YouTube comments using the Communalytic.org platform. The analysis utilized VADER and TextBlob algorithms for sentiment classification, Perspective API for toxicity mapping, and HDBSCAN for 3D semantic similarity clustering, evaluated through the theoretical lens of Stuart Hall’s Reception Theory. The findings revealed that public reception was dominated by neutral (51.05% to 75.38%) and positive (22.22% to 42.64%) sentiments, indicating that the majority of audiences process sensitive theological issues reflectively and cognitively rather than reactively. Public interaction in the comment section was found to be highly civilized, marked by a very low average general toxicity score of 0.10086, with oppositional resistance and toxic comments remaining semantically isolated at the periphery. Ultimately, the study concludes that audience interaction predominantly aligns with a Negotiated Reception position, proving that entertainment podcasts hosted by non-authoritative public figures can effectively function as inclusive digital public discourse spaces (digital majlis) that reduce polarization and foster civilized communication.
Copyrights © 2026