Artikel ini bertujuan untuk menyingkap dinamika transisi kebenaran dari ranah personal menuju ranah institusional dengan menggunakan pendekatan hermeneutika apropriasi. Selama ini, ketegangan dalam state of nature sering kali hanya dipandang sebagai konflik fisik, tetapi artikel ini berargumen bahwa konflik tersebut pada dasarnya adalah sebuah anarki hermeneutika. Dengan mengintegrasikan pemikiran Dilthey, Ricoeur, Searle, Foucault, dan Butler, artikel ini mengajukan teori a-propriasi untuk menjelaskan bagaimana esensi realitas yang muncul dalam kesadaran ditransformasikan menjadi kebenaran formal. Hasil kajian menunjukkan bahwa kebenaran institusional bukanlah representasi absolut dari realitas, melainkan sebuah kebenaran alternatif yang lahir dari permainan apropriasi yang tidak pernah final. Oleh karena itu, institusi harus senantiasa terbuka terhadap alteritas guna menghindari kekerasan hegemonik. Artikel ini memberikan refleksi bagi situasi politik global bahwa perbedaan pandangan adalah perwujudan kebenaran alternatif yang seharusnya memperkaya, bukan mengancam, kehidupan bersama.
Copyrights © 2026