Pendidikan berfungsi sebagai pilar utama pembangunan nasional, namun ketimpangan akses dan partisipasi antarwilayah masih menjadi tantangan kritis di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan pemodelan klasterisasi tingkat partisipasi 3 provinsi dengan tingkat angka sekolah tertinggi di Indonesia yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan jumlah 100 kabupaten dan kota. Penilaian menggunakan variabel Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Partisipasi Murni (APM), dan Angka Partisipasi Kasar (APK) yang diturunkan menjadi 9 indikator di setiap jenjang yakni Sekolah Dasar/sederajat (SD), Sekolah Menengah Pertama/sederajat (SMP), dan Sekolah Menengah Atas/sederajat (SMA). Data sekunder yang digunakan berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia untuk tahun 2023 dengan tools pemodelan menggunakan aplikasi Orange Data Mining. Metode K-Means Clustering diterapkan dan jumlah klaster yang optimal ditentukan melalui analisis Silhouette Coefficient, yang menghasilkan dua klaster dengan nilai rata-rata Silhouette lebih dari 50%, menandakan kualitas klasterisasi baik. Hasil analisis klaster menunjukkan bahwa Klaster 1 dikategorikan sebagai wilayah prima memiliki tingkat partisipasi yang tinggi di semua jenjang, dengan APS SD/SMP lebih dari 98% dan APS SMA hampir mencapai 80%. Klaster 2 dikategorikan sebagai wilayah atensi memiliki tingkat partisipasi yang kurang baik, terutama tingkat partisipasi studi pada jenjang SMA dengan APS hanya 66,80%. Wilayah dengan kategori klaster ini didominasi oleh Provinsi Jawa Barat dengan 75% kabupaten dan kota. Meskipun Provinsi Jawa Timur didominasi oleh wilayah dengan kategori klaster 1, namun kota Surabaya yang merupakan ibukota provinsi berada pada klaster 2 dengan tingkat partisipasi SMA yang rendah, ditunjukkan dengan APS SMA hanya 65,29%.
Copyrights © 2026